Sombong

Posted: 7 March 2018 in Uncategorized

Aku pernah resah dengan sebuah kebiasaan buruk. Memandang orang lain rendah, membandingkan diri dengan orang lain dan mencari keburukannya. Sampai sampai suatu saat aku bertanya pada Allah. Bagaimana caranya menghilangkan pikiran dalam benak yang sulit dikontrol ini? Sombong yang bahkan dalam benak yang lain merasa gelisah, mengapa perasaan perasaan -saya lebih baik- seringkali muncul.

Maka lahirlah dia, menjawab semua. Lahir dengan kegemasan yang luar biasa, aku sampai merasa Allah baik sekali mau meminjamkanya untukku. Chubby, kulit kemerahan, rambut hitam tebal. Seketika dalam bahagia itu terbersit rasa takut, sombong ini akankah lebih sering hadir setelah kelahirannya?

Ternyata manusia memang selalu sok tau. Dia menyusu dengan baik dan beratnya naik dengan sangat signifikan. Tanpa bantuan susu formula sama sekali. Semakin hari hanya bertambah lucu dan lucu. Setiap hari rasanya cuma bahagia saja. Di bulan ketiga sesuai dengan kesepakatan, aku kembali praktek sore. Dan, disinilah jawaban jawaban itu bermunculan.

Dia tidak pernah mau meminum asip yang sudah kusiapkan. Dalam 4-5 jam praktek, 1 botol asip pun tidak habis. Dan sepanjang aku pergi, dia sering menangis. Aku mulai bingung. Mencari dimana kesalahannya. Bukankah sudah begitu banyak ibu yang lancar bekerja dengan cara seperti ini? Apakah aku tidak boleh? Hanya bekerja sebentar saja ..

1 bulan terlewati dengan berbagai usaha agar praktek lancar dan dia tidak bersedih ditinggal di rumah. Hasilnya? Berat badannya naik sedikiit sekali. Aku kaget, rasanya ingin resign saat itu juga. Usianya baru 3 bulan. Jika saja aku tidak egois, beratnya bisa naik lebih banyak dari ini.

Dodolnya, aku masih memutar otak agar dia mau ditinggal praktek. Aku sampai membeli botol dan susu formula, dalam pikiranku, mungkin dia tidak suka asip. Tapi siapa yang mau menolak sebotol sufor hangat? Dia. Dia tidak mau, bahkan marah jika disodori dot ke bibir mungilnya.

Pekan pekan selanjutnya aku sering izin tidak praktek karena dia jadi sakit sakitan. Bolak balik ke RS dengan sebab yang jelas jelas engga 😐 Diselingi kejadian besar, bingung puting. Rasanya semakin sempurna, bingung puting, tidak mau dot, sakit, berat badan tidak naik 😭

Di bulan kelima kehidupannya, aku mulai stress dan resign. Rasanya sudah cukup teguran Allah ini. Ada yang mesti kuubah. Ada pesan dari bayi kecil itu yang ingin disampaikan pada ibunya. Apakah setelah resign semua berjalan bak bunga bunga? Tidak ..

Dia jadi penakut. Tak bisa sedikiit saja kutinggal. Tidak mau dipegang oleh orang lain. Padahal sebelumnya dia mau mau saja. Sejak usianya 3 bulan, dia akan menangis jika aku memakai jilbab. Tangisannya sama kencang jika aku hanya pakai mukena untuk sholat. Oh bayii, apakah kamu pikir jika ibu pakai jilbab artinya akan ditinggal? Kupikir bayi unyil ini tidak paham hal hal begini. Setidaknya, bukan di usia ini.

Iya, perkembangannya lebih cepat dari bayi biasanya. Bukan hanya secara motorik, tapi juga dari perkembangan perasaanya yang begitu sensitif, seperti marah jika tidak disapa, tidak mau menatap mata jika aku menyusuinya tanpa fokus padanya saja. How come? Bayi ini pintar sekali.

Jauh, dari kakaknya yang dulu kurasa begitu banyak kemudahan. Sejak usia 2 bulan aku melanjutkan koass, mau ditingal, mau minum pakai dot, sangat ceria, beratnya terus naik, super easy baby -dan meninggalkan rasa bangga tak berkesudahan- Di usia adiknya yang ke lima bulan itu, aku tidak pernah menyangka, mengurus anak kedua, bisa secomplicated ini. Bikin bingung. Bekal pengalaman mengurus anak pertama seperti tidak ada gunanya, semua dari enol lagi dengan berbagai kasus yang jauh berbeda. Iya, kakak adik ini berbeda satu sama lain. Berlawanan dari berbagai sisi perbandingan.

Berat badannya saat usia 5 bulan itu bahkan tidak mengejar ketertinggalannya saat usia 3 bulan. Rasanya sudah lelah menyusui sebulan penuh tanpa gangguan apapun, tapi beratnya tidak naik signifikan. Kesal. Aku memberinya mpasi dini atas saran dokter. Mudah? Tidak sama sekali.

Setiap hari mengalami penolakan. Sebulan terlewat hingga akhirnya aku menemukan formula mpasi yang dia izinkan masuk ke mulutnya. Haaah dulu menyuapi kakaknya tak pernah senjelimet ini. Diiringi mpasi beratnya mulai kembali naik signifikan. Diselingi beberapa kali sakit yang mengstagnankan beratnya, akupun mulai terbiasa. Iya terbiasa πŸ™‚

Terbiasa menggendong bayi yang ringan dan terlihat kurus. Terbiasa juga dong dengan komentar “Kok kecil? Kok kurus?”. Terbiasa ditolak setelah memasak mpasi. Terbiasa dengan muntahnya setelah selesai makan karena batuk hebohnya. Terbiasa dengan tangisnya yang seperti kejedug padahal cuma ditinggal wudhu. Terbiasa mendengar jeritan tak kunjung usai saat sedang memakai pentul merapikan jilbab depan kaca karena dia suudzon akan ditinggal padahal dia juga sudah pakai baju pergi dan kita akan pergi bersama πŸ˜…

Aku menerimanya. Tidak lagi panik panik menyebalkan. Sadar semua yang kupetik saat ini adalah apa yang kutanam. Aku berpikir tanaman yang ini akan habis sampai akarnya jika aku memberi bibit yang lain dan menyiramnya dengan air setiap hari. Aku berubah. Tak pernah terpikirkan akan pergi sedetik saja tanpa dia -tentu saja juga kakaknya- aku ingin kembali membangun kepercayaannya padaku, bahwa aku selalu ada, kemanapun bersama sama.

Lantas hari yang berat dimulai, jika bayi lain di usia 7 bulan sudah bisa ditinggal, ini tidak sama sekali. Aku membulatkan tekad untuk kembali praktek, hanya 1 kali saja seminggu, membawa keluarga lengkap. Jadi seperti jalan jalan padahal nemenin ibunya praktek saja dari sore sampai malam. Sebelumnya aku malu, merasa direpotkan karena tetap mesti menyusui di klinik, menyuapi, dilihat kasian oleh pasien karena anak anaknya sampai malam masih di klinik. Tapi aku yakin jika ini tidak dimulai, semua tidak akan berubah.

Dan ahh lama lama aku terbiasa juga, dengan persiapan 2 jam sebelum berangkat praktek, dengan memotong antrian pasien untuk menyusui langsung, tetap mengerjakan pasien dengan backsound tangisan pecah karena dia ngantuk di gendongan ayahnya.

Bulan berikutnya bayi kecil itu terbiasa dengan suasana klinik dan mulai merangkak kemana mana. Masih satu kali seminggu, hingga hari ini dia bisa berjalan mengelilingi klinik, berkejaran dengan kakaknya, bermain bersama ayah, menemani ibu bekerja. Tertawa tawa ceria. Aku mulai berpikir, sepertinya fase ini akan segera berakhir ya anak anak πŸ™‚

Sadar tidak sanggup lagi memompa asi dengan maksimal, aku membeli lagi susu formula, aku mencoba memberikan padanya, mau! Hah, aku tidak percaya. Kuberikan 1 botol sehari, dia mau. Kuberikan susu pada ayahnya, awalnya dia tidak mau, tapi lama kelamaan dia mau. Tanpa tangisan, dengan senyuman.

Hari itu akhirnya datang, dan ternyata rasanya malah jadi sedih. Pergi praktek tanpa banyak gembolan. Klinik yang jadinya sunyi senyap. Pasien yang menanyakan kemana bocah bocah itu. Hhh kutahan tahan untuk tidak mengajak salah satu dari mereka ke klinik. Karena semua bisa jadi buyar kembali. Aku menikmati me time lagi, meski masih satu kali seminggu, aku bersyukur banyak banyak.

Bersyukur karena dot dan susu formula yang dulunya selalu kukutuk tak sudi kupakai. Bersyukur karena ayah mampu mengasuh bocah yang tadinya selalu kuragukan. Bersyukur atas kerendahan berat badannya, sehingga rasa tinggi hati perlahan terkikis. Tak lagi membandingkan. Tak lagi merasa lebih baik. Setiap melihat orang lain aku tidak lagi memikirkan apa apa. Aku hanya bersyukur atas apa yang sudah Allah beri dan tak ingin diambil dengan cara seperti itu lagi. Bodo amat orang lain, mereka hidup dengan ujian mereka sendiri. Aku tidak lebih baik. Bisa jadi mereka yang malah jauh lebih baik.

Menuju 1 tahun sejak hari lahirnya. Masalah perbayian masih banyak, tapi kini, Aku bisa berpamitan padanya sebelum praktek, dadah dadah yang dibalas olehnya ditambah senyum lebar. Damaai. Beratnya kini ada di garis normal KMS meski masih di batas hampir bawah. Aku senang. Tak lagi membuatku begitu sedih. Sedih secukupnya, senang secukupnya.

Perasaan seperti ini mahal sekali harganya.

Terimakasih Atqiya, Alhamdulillah 🌼

Advertisements

Gataauuu πŸ‘€

Posted: 1 March 2018 in Uncategorized

Sofi sering banget jawab pertanyaan dengan kata itu: “kan aku gatau”. Awal awalnya, dibales jawab: “oh gatau, yaudah nanti lagi blablablablabla ya”. Etapi kok sering juga dia bilang gatau gatau dan gatau. Rasanya lama lama gatau itu pilihan jawaban untuk melepaskan beban (?!)

Karena sekarang seringnya gw memproyeksikan diri dari sebuah kasus yang sedang gw analisis pada diri gw sendiri. Maka gw memejamkan mata dan berpikir. Apa gw juga suka bilang gatau untuk kabur kaburan yaa …

Ternyata jawabannya YES, bahkan dengan alasan gatau ituu, gw bisa sok (drama) ngamuk ngamuk karena merasa jadi korban, like …

“Gw kan gatau apa apa tapi malah disuruh ngerjain ini, udah tau gw ga ahli geginian. Hiih!”

Gitu lah kira kira. Terus kalo misalnya keadaan tambah runyam -karena gw masih pake jubah gatau- lanjutannya gini …

“Tuh kan, bener kan, udah gw duga, ancurr, makanya jangan suruh gw kerjain ini, orang gw gatau gimana gimananya.”

Ha ha ha. Shaal, yang namanya gatau mah cari tau atuh neeng. Belajar, baca, gugling, nanya nanya. Gaul. Jangan komat kamit ngerapal kutukan sendirian.

Kalo gatau karena emang belum tau sih normal normal aja. Tapi kalo gamau cari tau. Menikmati ketidaktauan. Sampe ke pura pura gatau untuk rasa nyaman yang fana? Gimana? Ga asik banget, ga maju maju, nyebelin iyaa.

Karena, kalo diperhatikan baik baik, semua yang datang ke kita itu yang narik diri kita sendiri. Daaan, manusia manusia cuma perantara dari Allah untuk ngasi kado itu ke kita. Daaan yang lebih penting, berarti ada pelajaran baru yang mesti kita tau, Allah pengen kita tau, karena sebelumnya kan gatau tuuh. Wkwkwk.

Gitu ya Shal. Kalo kata Raihan mah gini, ehm πŸŽ™πŸŽΆ

Bacalah dengan nama Tuhanmu

Itulah permulaan ilmu

Seperti yang diwahyukan

Menuntut ilmu satu kewajiban

Utlubul ‘ilma~ walau bisshiinn

Tuntutlah ilmu~ walau ke negeri China~

Lanjut ga nyanyinya? Udah ya udah. Yok semangat terus menuntut ilmu yang baik apapun dan darimanapun itu. Enak ga enak, jadikan ilmu 🎁

By the way, gatau ini punya temen namanya gabisa loh. Tiatii πŸ€—

Dunia tanpa Frozen

Posted: 28 February 2018 in Uncategorized

Meja kecil itu tertinggal di teras belakang. Tempat anak anak paud belajar. Bilqis tetiba terdiam memandangi meja itu. Sendirian di luar. Fokus memperhatikan gambar meja. Lalu bertanya,

“Ibuk, liat ini deh, ini mejanya gambar apa sih bu?”

Seketika ibuk ikut ikutan memperhatikan meja kecil itu. Ohh gambar Frozen πŸ˜… ada gambar Olaf yang cukup besar, dibelakangnya ada Elsa dan Anna dengan proporsi yang lebih kecil dari Olaf.

Sejenak ibuk mikir dulu mesti gimana. Hmm masa kecil gw ditutup dari hal hal kayak gini, princess world. Masih jelas dalam memori saat SD, semua teman membahas sailormoon, dan gw gabisa nyambung sama sekali. Berharap sebentar lagi bahas doraemon aja, kalo itu gw boleh nonton soalnya.

Gw lihat mata Bilqis fokus kemana, dia memperhatikan Olaf. Hmm ..

“Itu namanya Olaf bil, dia boneka salju tapi bisa bergerak gerak.”

Sebentar lagi pasti sampe sih ke ketakutan terbesar, nanyain gambar cewek ceweknya πŸ‘­

“Ooh, kalo ini siapa bu?”

“Ituu siapa yaa, itu namanya Elsa, yang satu lagi namanya Anna.”

Di waktu yang pendek itu gw mikir keras, lanjutin jelasin atau engga.

“Mereka kakak adik, ini kakaknya, itu adeknya, mereka sukaa sekali bermain salju.”

Udah, kayaknya gitu aja menurut intuisi gw πŸ˜‚ kalo dia nanya lagi baru gw jelasin lagi.

Dulu sampai sekarang gw gatau sama sekali apa isi cerita sailormoon. Gw juga -ahirnya- ga pengen tau sih. Tapi perasaan ga enak karena gabisa nyambung sama temen temen masih keinget sampe sekarang.

Gw bisa aja jawab ngarang ngarang dan jelek jelekin Frozen biar Bilqis iyuh gamau nonton. Tapi itu kan bohong. Frozen itu cuma bukan tontonan yang oke untuk Bilqis di usia sekarang. Paling yang bisa dia tonton cuma bagian awalnya aja pas mereka berdua masi kecil. Karena yaa semua juga tau ada scene scene apa di dalamnya yang ga cocok buat bocah tiga tahun. Di sisi lain Frozen juga sebuah karya yang brilian, bahkan mendunia.

Dalam waktu yang pendek itu gw pengen Bilqis tau kalo Frozen itu ada, ga gw tutup tutupi dari dia. Tapi gaperlu ditonton sekarang juga. Cukup tau aja. Dengan begitu Bilqis belajar bukan hanya semua hal yang baik. Tapi juga ada hal hal yang tidak sesuai dengan kita, tapi gabisa kita buang atau abaikan begitu saja. Membiasakan hidup dalam perbedaan. Melebur tapi tidak perlu ikut luntur.

Semoga dengan begini, Bilqis bisa memilih dan membedakan. Bukan tidak memilih karena tidak tahu keadaan. Jadi ga norak norak amatlaah. Karena seaman apapun bacaan dan tontonan di rumah, se-islami apapun sekolah dan lingkungan mainnya, dia akan tetep ketemu Frozen di luaran sana, mungkin juga di meja kecil untuk mewarnai milik temannya πŸ˜‚

Jodie

Posted: 27 February 2018 in Uncategorized

Awalnya gw merhatiin dia muncul melulu di explore instagram. Cover lagu. Bagus ❀ Lanjut ke IG pribadinya, suaranya bagus. Lanjut doong ke yutubnya, baguuss. Banyak banget likenyaa. Dan akhirnya gw baru tau kalo dia salah satu peserta Indonesian Idol 2018. Pantesan nongol mulu mbaknyaa~

Hampir di semua penampilan babak seleksi dan eleminasi dia bagus, sekali dua kali failed tapi termaafkanlah yaa, melihat karyanya, gw juga maafin dah haha haha *siapa guee. Masuklah doi ke panggung spektakuler. Jeng jeng jeeng!

Ga pernah gw sangka dan ga ada yang kebetulan di panggung spekta untuk pertama kalinya, dia ga bagus. Ga ada power, fales lagi 😿 cediih. -lebih sedih sih baca komen di yutubnya belain dia bagus padahal fales, jadi prihatin sama netizen yang ga ngerti nada- Gw yang ga kenal dia aja, yang bisa banget bodo amat aja, hati gw malah memilih baper.

Yes, gw sampe kepikiran sama dia, pasti terpukul banget. Pasti langsung banyak yang bully. Pasti banyak hatersnya. Ahh kenapa kamu kayak gitu nyanyinyaa Jodie 😭

Gw yang jadi ga sengaja perhatian banget sama dia, ngerasa kalo dia juga shock. Terlihat dari akun IGnya yang ga posting apa apa lagi sejak spekta, padahal sebelumnya dia suka posting video video audisinya di yutub. Kebayang kaan kek apa perasaanyaa …

Untuk seorang Jodie yang hobinya cover lagu (suaranya bisa diedit edit eh) dan fasilitas medsos sekarang, dia bisa jadi seleb dari rumahnya. Tapi panggung spekta memberikan pengalaman yang berbeda buat seorang Jodie. Kalo nyanyi itu ga semudah itu apalagi dengan panggung superbnya idol. Dia mesti buktiin kalo emang beneran bisa nyanyi.

Lantas gw dan Indonesia, berharap dong dari spekta dia selanjutnya. Hasilnya? Ga begitu memuaskan juga. Penampilan kedua ini bikin gw bahkan malah tambah kasian, dan mikir yaudah mending lo udahan aja deh *dih Shaal sebel amat bacanyah 😬

Dengan kepopulerannya dia tetap aman dari eleminasi dan manggung lagi. Hasilnya better, tapi biasa aja. Ga terlalu spesial, kalo kata judges, aman dan oke oke aja. Yakin banget sih ini karena penampilannya yang pertama masih ngefek ke pekan pekan selanjutnya. Apalagi kalo dia mantau hatersnya, bisa ga waras dah. Hhh dan 2 pekan lalu gw masih ngerasa Jodie enaknya keeleminasi aja untuk kebaikan semua pihak wkwkwk

Sampe tiap dia mau manggung gw doain semoga penampilannya bagus biar ga sedih. Dan takjub banget di spekta 8 semalam, Jodie bangkit dari keterpurukannya. Dia bener bener bisa kembali ke performa awalnya saat audisi. Sampe dapet standing applause dari para judges. Hal yang selalu gw pikirin ga akan terjadi pada pebampilan Jodie. *Nyinyir aja apa banget ini Shal πŸ˜‚

How come Jodie?! Jujur gw kagum sama kebangkitannya, gw kira dia bakalan melemfem, kehilangan arah dan nada jadi fales mulu wkwkwk. Soalnya beberapa perform tuh beneran php. Tepuk tangan dulu πŸ‘πŸ‘

Nah beralih ke juri pendukung Jodie yang gw juga kagumi. BCL. Pas awal awal bikin album dan mulai masuk dunia musik indonesia, gw perhatiin kalo lagi perform juga suka fales fales gitu. Beda sama rekamannya *hehe yaiyalaa~ Terus gw jadi sangsi sama dia bakal jadi penyanyi besar. Etapii ternyata film OST Habibi Ainun meledakkan namanya, dan beberapa waktu yang lalu bikin konser besar sendiri.

Ketika doi masuk jadi judges idol pun yang bully banyak banget, include me, agak ragu. Kadang gw bisa merasakan kesadaran BCL kalo dia bahkam ga sejago peserta idol. Tapiii, dia ternyata membuktikan kalo dia bisa. Cukup keras kepala untuk terus menyanyi.

Dan gw baru bisa paham kenapaa sih BCL selalu mendukung Jodie. Padahal judges lain pun ga ada yang bela belain banget kek gitu. I think, salah satunya adalah latar belakang ini. BCL sudah mengalami banyak hal di industri musik, melihat potensi Jodie yang besar tapi belum keluar, Jodie hanya butuh belajar dan berusaha lebih banyak, include mengorbankan perasaan perasaan yang pecah pecah duh πŸ’”

Soooo highlight yang gw dapet semalem dari nontonin idol sampe malem -eh dini hari- adalah, ketika lo merasa belom sempurna dalam suatu pekerjaan yang jadi tujuan, lo suka tapi belom jago jago amat, walaupun rasanya gaenak, dipandang sebelah mata, dibanding-bandingkan, ga dipercaya, dijatuhkan mentalnya sesuka hati netijen, lo cuma butuh belajar lebih banyak Shaliha. Yuk buka yutub tutorial nambel gigi lagii, udahan udahan idol idolannyaaa. Bubyaarr 🎧

Pelajaran dari Khansa

Posted: 26 February 2018 in Uncategorized

Pasien atas nama Sri keluar dari ruangan. Gw baru aja nyabut giginya. Untuk pengalaman pertamanya cabut gigi permanen, pasien ini cukup tenang. Mungkin karena bawaannya yang santai atau karena percaya gw ga jahat wkwkwk atau bisa juga karena belum tau apa dan bagaimananya cabut gigi itu huehehe. Selalu penasaran sama pasien yang mau cabut gigi tapi rileks rileks aja πŸ‘

Pengen ngobrol banyak karena pasien ini jauh jauh dari jakarta untuk periksa giginya. Tapi apa daya, ada pasien setelahnya yang menanti.

Namanya Khansa, usianya 7 tahun. Masuk ke ruangan sambil bercucuran air mata. Dalam hati, heeu another pasien suudzon sama dokter gigi is coming πŸ™ Kata ibunya, Khansa gigi permanennya udah tumbuh. Tapi gigi susunya belum lepas. Ini kali kedua cabut gigi. I see, jadi pengalaman pertamanya masih bikin takut.

Okee gw liat giginya, sisa akar gigi susu nongol di gusi, di bawahnya gigi kelinci udah terpampang nyata. We can call it, persistensi gigi. Gigi yang seharusnya udah lepas tapi masih aja stay disitu.

Dalam logika, gw pikir ini simple, karena ternyata akarnya lumayan (((goyang))) gaperlu pake suntikan. Cukup topikal anestesi aja. Tapi Khansa makin suudzon sama gw, dia malah nangis makin jadi padahal belom di-apa-apain πŸ€—

Gw: Khansa kenapa nangis? kan belom di apa apain. Takut ya?

Khansa: [nangis]

Gw: yaudah deh ga dicabut, cuma diliat aja

Khansa: [nangis tapi buka mulut]

Oke good, yang penting goalsnya dapet, nganga!

Gw: Khansaa, kok masih nangis, aku cek aja yaa, kalo mau ambil giginya aku izin dulu kok

Khansa: [nangis]

Gw: Khansa, tarik nafas deh, terus buang. Yuk!

Khansa: [tarik nafas sambil sesenggukan]

Good! Dia taat yaa 😍

Gw: Khansa, sekarang aku mau olesin ininih, soberi soberi hmm yummy, cium deh wangi ya

Khansa: [nangis]

Gw: hehe gasuka soberi ya Khansaa, Khansa aku izin mau ambil giginya yaa.

Khansa: [masih nangis sambil buka mulut]

Secepat mungkin gw cabut giginya

Gw: Wii udah lepas tuuh. Alhamdulillaah

Khansa: [berenti nangis]

Gw menjelaskan lalalalilili tentang gigi anak ke ibunya, Khansa udah asik main sendiri, observasi ruangan yang tadi ga sempet doi lakukan karena ketakutan. Sebelum pulang gw kasi hadiah stiker untuk Khansa yang pemberani.

Khansa keluar. Hhh gw jadi mikir. Rasa takut Khansa itu, takut untuk melakukan sesuatu bukan karena ga kebayang kayak apa, tapi karena udah tau bakal kayak apa jadinya takut.

Bedanya dari sudut pandang dokter gigi, ga ada yang perlu ditakutkan, ini sebentar aja, hampir ga kerasa, kalopun sakit sedikiit. Tapi dari sudut pandang khansa, takut banget sampe nangis gapeduli jadi ga cantik.

Tapi Khansa kasi pelajaran besar, untuk tetap jalanin rulesnya, nurut ikut ibunya ke drg, ngikutin instruksi drg, mau buka mulut walau sulit, duduk di kursi gigi sampai selesai. Dan semuanya kebayar, pulang dengan senyum bahagia. Satu masalah hidup terselesaikan, karena ga puter balik di tengah jalan πŸ’ž

Bye Komedo πŸ‘‹

Posted: 31 December 2017 in Uncategorized

Seumur umur, gw pernah mengalami tiga kali fase jerawatan parah. Yang pertama masa masa ibu meninggal, kedua pas lagi ngerjain skripsi, satu lagi pas <s>KIMI reborn</s> eh hamil muda 😏

Banyak hal yang gw lakuin dari ganti ganti facial wash, ke salon buat facial ,sampe pake obat dari dokter kulit. Jerawat jerawat itu tetiba ilang aja tanpa gw tau formula apa yang sebenernya cocok buat ngilangin jerawat. Sehingga sekarang gw gabisa kasi saran apa apa buat yang baca πŸ˜‚βœŒ

Selain jerawat yang tidak jelas tersebut, gw punya masalah kulit wajah yang lebih jelas. Yaitu komedo di sekitar hidung. Hal itu gw sadari saat koass, berasa banget kalo ngeraba hidung ada bruntusan komedo. Kalo ngaca keliatan ada kumpulan titik putih. 

Atas kesadaran itu, tiap belanja bulanan gw beli porepack Biore. Yang warna item ditempel di hidung itu loh.

Iya itu alas nya hape. Abaikan. Nah gw dulu ngerasa udah cukup aja tempel itu ke idung. Ngerasa masalah komedo selesai. Tapi lama lama gw rasa media ini ga terlalu ngambil komedo sampe ke akar. Ada sih yang kecabut tapi sedikiit. Gw masih bisa raba banyak komedo yang tertinggal.

Temen gw kasi saran untuk (((balur))) muka pake baby oil. Biar komedo bisa keluar dengan mudah. Akhirnya gw lakukan, sebelumnya gw bersihkan wajah dengan air hangat (katanya biar pori pori wajah melebar). Terus gw korek korek pake kuku. Keluar tuh komedo. Bertahun gw melakukan hal itu dan gw ngerasa cukup aja. Walau jujur dengan baby oil ga yakin komedo keangkat semua. Secara baby oil bikin efek wajah jadi kenyel tapi halu. Di akhir tulisan gw tau yang gw kerjakan ini … Rahasia! Makanya ikutin tulisan ini sampe beres yaak (kebanyakan nonton yutub) πŸ˜‚

Lama kemudian gw jarang peduliin komedo. Kadang ada kadang engga. Jadi gw ga terlalu care. Hingga tibalah zaman anak abg pada hobi beli masker wajah korea. Merknya macem macem. Iyes, adek adek gw pada beli itu masker. Kemasannya warna warni, lucu dan menarik. Tapi gw ga tertarik. Setiap adek gw nawarin, gw jawab, maunya masker yang bisa narik komedo aja. Tjie sok tau kebutuhan wajah padahal fakir elmu. 😿

Beberapa bulan lalu adek gw nawarin masker untuk mengangkat komedo. Uwow long time no mikirin komedo banget. Gw udah ga mikir apa apa. Mungkin ini adalah jawaban dari penantian panjang gw wkwkwk. Langsunglah gw setuju untuk beli!

Dasar ya pengennya instan. Gw ga baca ga apa asal pake pake aja. Percaya aja sama kids jaman now. Gw pake dan … gw ga merasa komedo gw ketarik segimananya. Ga beda jauh sama porepack. Ya gapapa sih gw santey soalnya murah, harganya tigapuluhribuberapaaa~ gitu. Pas pemakaian kedua kali gw make bareng adek gw, baru dah dia bacain tuh masker. Untuk komedo hitam. Komedo gw putih. Ga cocok. Bukan jodoh samsek. Liat deh di pic, kebaca banget kan ya blackhead. πŸ˜ͺ

Udah kan gw jadi agak males make lagi, gw kasi aja itu masker ke adek gw yang punya komedo item hahaha. Dan gw kembali ga peduliin komedo. Sampe suatu hari adek gw kirim video masker yang bisa ngangkat komedo sampe ke akar akar. Katanya ini namanya masker tulang. Gw langsung takjup ngeliat video itu. Dan gw langsung order!!

Ini belinya ke temen sekolah adek gw. Pas barangnya sampe gw semakin takjup. Gini doang nih? Kayak bubuk pixienya tinkerbell tapi gw cuma dibagi seucrit πŸ˜’ tapi mengingat videonya dan harganya yang emang cuma tigapuluhribu pas. Gapapa deh. Cuma gw bingung, gimana cara makenya? Ga ada instruksi cara pemakaiannya. Cuma ada tulisan bye bye KOMEDO aja … Okeey.

Jadi gw suruh adek gw chat temennya itu. Karena gugling pun gw ga dapet info tentang masker ini. Katanya gini cara pemakaiannya:

1. Taro bubuk pixie di sendok sayur, campurkan dengan sedikit air.

2. Rebus air di panci dan taro sendok sayur tadi di atas air mendidih. Jadi kayak… Ngelelelehin coklat (?)

3. Terus dalam keadaan panas panas gitu, puk puk ke wajah. 

Yang ketiga ini gw serem. Tapi lagi lagi gw tahan tahan aja. Panaaasss πŸ‘Ή Tetep motivasi dari video begitu besar men. Gw maju terus karena penasaran yang begitu besar.

Sebelum pake maskernya seperti biasa gw udah ngebersihin wajah pake air hangat dan ditambah ngolesin cairan bakimg soda, kata adek gw biar lebih kebuka pori porinya. Gw nurut ae. Dan ternyata pedihh cyiinn 😿

4. Tunggu kering dan keletekin maskernya.

Akhirnya sampailah gw pada akhir step. Dan gw beneran takjup liat hasilnya!!!

Ini yang dari idung gw. Zoom in deh

Ini yang adek gw

Komedonya keangkat banget sampe ke akar. Tapi tetep ada yang ketinggalan, atau kepotong gitu. Sebagian ketarik akarnya, sebagian ngga. Tapi ini banyaakk banget yang keangkat dibanding apa yang pernah gw alami sebelumnya. Lantas gw melakukan lagi pembaluran baby oil di wajah demi keluarin yang ketinggalan 😌

Akhirnya gw dapet hasil yang paripurna. Muka mulus kenyel, dan ga ada komedo sedikitpun terasa ✨

Tapi entah kenapa gw merasa resah aja. Ga ada keluhan sih sampe sekarang dari gw pake masker ini. Cuma gw ngerasa ini hanya keberuntungan pemula nan duduls. Jadi untuk menjawab keresahan gw, gw chat seorang beauty consultant kenalan gw satu satunya~ yang akhir akhir ini gw suka fudulin IGnya karena ke-blank-an otak gw terhadap geginian …

Dan jeng jeng jeng! Begini hasil chatnya, cukup membuat gw merasa jadi pasien tukang gigi yang kurang sekolah …

Begitulah, ternyata banyak hal bangeett yang gw belom tau tapi merasa gaperlu tau. Hemh πŸ˜’ Dan jadi jelas banget semua hal yang gw lakukan sebelumnya adalah karena kemageran gw cari tau dan mental instan lalu merasa sudah cukup puas. Komedo itu ternyata bisa dicegah yaa, gw pikir komedo tuh takdir yang tak bisa dielakkan lagi. Cukup sudah jadi pasien tukang gigi, mari kita ke dokter gigi!

Terimakasih banyaak ceu Felly yang sudah memberikan secercah cahaya pada perawatan kulit kering berkomedo gw. Rasanya kek dapet hidayah selama ini bodo amatan sama muka sendiri ekekek. 

Dan terimakasih buat kalian yang sudah baca sampai ujung sini. Yang mau beli masker bubuk pixie bye bye KOMEDO boleh komen aja mumpung adek gw masi temenan sama yang jual. Info tambahan itu masker tulang sapii wuwuwuu πŸ˜™ Selain itu silakan gugling kalo nemu πŸ˜‚ Yang masi malu malu sama konsultan kecantikam cuss fudulin aja dulu IG @felyfey. Sing dapet hidayaah. Ini postingan terakhir di tahun 2017 anyway. Sampai jumpa tahun depaan πŸ˜πŸ‘‹

Pasien TergemasΒ 

Posted: 28 December 2017 in Uncategorized

Gw sering melakukan sesuatu tanpa kesadaran. Tau tau udah sampe. Tau tau udah beres. Gatau ini emang masih kesetanan, ga aware, atau karena kebiasaan. Kayak misalnya berangkat ke sekolah, gw suka ga sadar tau tau udah sampe sekolah saking seringnya gw berangkat ke sekolah. Atau pas lagi mandi terus gw wudhu, refleks aja, pas udah selesai mandi gw suka lupa udah wudhu belom ya, ahirnya gw ulang lagi, pas lagi ngulang wudhu itu gw baru ngeuh kayaknya gw udah wudhu deh barusan.

Makanya kadang gw suka lupa naro barang dimana. Terutama barang yang selalu dibawa kayak hp dan dompet. Ga jarang gw kehilangan dadakan begitu saja. Padahal ga lagi rempong rempong amat. Gw sampe mesti telusurin kapan gw mulai ga sadar. Ampe muter kesana kemari ga ketemu. Mikir keras dulu baru deh berhasil. Dan gw amaze sendiri, berarti tadi selama gw melakukan sesuatu ada waktu waktu zonk dan gw ga inget apa apa. Bagaimana mungkin hal ini bisa terjadi 😳

Biasanya gw suka maksain seluruh personel tubuh gw untuk sadar kalo lagi ngapa ngapain, fokus gitu. Ternyata susah, ga gampang menyatukan mereka semua. Macem ininih gw kan mau nulis blog, terus kepikiran mau chat siapa, bales chat siapa. Acakadut. Eh ga sadar udah explore IG, wasap, line nyampe dah sejam 😣😞 ups curhat πŸ™Š gitu deh, gw masih suka ga kompak sama diri sendiri wkwkwk kasian kasian kasian~

Gw pikir hal serupa terjadi pada salah satu pasien gw. Saat itu antrian ramai lancar. 1 pasien biasanya menghabiskan durasi 15-30 menitlah. Setelah sekitar 3 pasien (berarti ini pasien udah nunggu 1 jam lebih ya) masuklah pasien ini di ruangan gw. Setelah senyum sapain, gw tanya dong keluhannya apa …

“Hmm ini dok, tulang punggung saya sakit.”

Dahi gw agak berkerut. Punggung? Oke gw pikir ini ada hubungannya sama obat untuk giginya. Atau pantangan dari dokter spesialis apaa gitu kaann.

“Nah sekarang tulang lutut juga suka kerasa nyeri gitu.”

Lutut? Gw lirik pendampingnya. Yang nemenin bapak ini. Minta kejelasan. Zonk. Ga ada yang gw dapet.

“Maaf pak? Gimana? Duduk disini aja dulu ya pak biar saya lihat giginya.”

Gw suruh aja dia duduk di dental chair. Gw pikir dia punya masalah berkomunikasi or something like that. So gw liat aja langsung giginya. Tapi dia malah menatap dental chair dengan bingong …

“Duduk disini dok? Saya sakit kaki dok” 

Okey~ ada yang salah sama otak bapaknyah (!)

“Hmm pak tapi ini klinik gigi. Disini semua pasiennya sakit gigi.”

“Oh gitu ya?”

“Iya pak 😭 Bapak ada keluhan gigi nggaa?”

“Ngga, saya ga sakit gigi. Ini tulang saya yang sakit. Saya disuruh ke sini. Saya kira ini dokter umum.”

Rrr! Emang sih beberapa meter dari klinik tempat gw praktek ini ada klinik 24 jam dokter umum. Dan emang gigi itu tulang jugaa πŸ˜ͺ Tapi kan tapi kan tapi kaaan, emang dia galiat ada dental chair segede gaban. Dia pikir ini buat duduk duduk santeyy.  Itu plang di depan ga dibaca apa gimanaah 😭 kan gw jadi prihatin dia udah nunggu lama dengan sakit tulang tulangnya itu. 

Ish gemasnyaa, ada apa sebenarnya paak? Kenapa mesti ekting kek gituu.. Mau pdkt apa gimanaa πŸ˜’ apa lo sebenernya agen yang merasa gw teroris berkedok dokter gigii. Gw ga sempet ya gali latar belakang bapak itu kenapa bisa sampe nyasar kemari. Pas masuk ke ruangan dia ditemenin sama orang padahal. Entahlah itu siapanya yang sama sama sedang kosong pikirannya (?)

Seketika gw sadar, ke-tidak-aware-an kita akan segala sesuatu tuh merugikan sangat. Merugikan diri sendiri dan orang lain. Ga sehat. Jikalau bapak itu ga ekting, ga zonk juga, berarti kesalahan terjadi karena kekurangan wawasan semata. Ahirnya kebingungan ini gw tutup dengan kemungkinan beginilah cara Allah ngasi gw kaca untuk membenahi kedudulan demi kedudulan yang telah gw perbuat 😡