Archive for the ‘Uncategorized’ Category

If you know what i mean ..

Posted: 29 March 2018 in Uncategorized

Beb, kabur itu tidak akan pernah menyelesaikan masalah.

Pun saat yang dipilih adalah opt out, hadapilah langkah langkah untuk keluar dengan baik. Jika keluar mesti melewati pintu, lift, resepsionis, pos satpam, laluilah itu semua. Jika di sepanjang jalan keluar banyak sekali bullyan atau lemparan kotoran, mau bagaimana lagi? Jangan malah terjun bebas lewat jendela lantai 8 cuma gegara tengsin baper kalau ketemu mba resepsionis ples emosi kalo ketemu abang satpam. Wkwkwk macem mana~

Sama sih, sampai ke situ situ juga, gerbang luar. Tapi beda keadaannya. Misal tetep hidup, ditontonin semua orang, dibawa ke rumah sakit, gatau lah patah tulang apa aja, recovery dan rehabilitasi berapa lama, biaya ga keitung berapa, lalu kalau sudah sehat? Tentu mesti kembali melalui step -pintu.lift.resepsionis.satpam- bari jeung teteeup digosipkan oleh siapa saja karena melakukan akrobat sebelumnya. Lalu kalo mati? Gausah dibahas 😔 If you know what i mean ..

Akhirnya mesti mengulang menghadapinya lagi untuk menyelesaikan. Hal-hal yang belum tuntas tapi kita tinggalkan. Hal-hal yang belum usai kita bereskan dengan asal asalan biar cepet pulang. Jangan berpura pura tidak tau kalau sesungguhnya ini semua belum selesai. Unfinished bussines, yang ditinggal kabur dengan cara nyata atau acting, nikmat tapi fana, nikmat tapi sangat sesaat, akhirnya? Akan kelimpungan juga.

Tak ada sebesar zarrah pun kebaikan yang tidak Allah nilai, tak ada sebesar zarrah pun kesalahan yang tidak Allah catat. Apa yang datang, apa yang hilang. Tenaaang ..

Maka hadapi, lakukan sepenuh hati, dan selesaikanlah.

Ya bebe -yang makin kreatif mencari cara melarikan diri- 😊

Advertisements

HYGAO

Posted: 16 March 2018 in Uncategorized

Hai, saya SOPHIE NAVITA. Saya adalah perempuan yang selama saya ingat, hatinya sedih lantaran seumur hidupnya mencari kebahagiaan lewat pengakuan orang lain. Saya sering merasa sulit untuk bahagia. Ya, saya perempuan yang mudah sedih dan sering khawatir. (HYGAO, hal.10)

Membaca kalimat ini di awal bagian bab berjudul: Siapakah Saya? Gw langsung merasa iri. Kalo Mas Indra Herlambang menyampaikan kedengkiannya atas segala kemampuan Mba Sophie sebagai presenter di bab sebelumnya, gw iri atas kejujurannya terhadap diri sendiri. Mengenal dengan baik dirinya sendiri. Karena dari kalimat ini, terbaca banyak hal yang gapernah orang sangka, gapernah dikeluarkan ke hadapan khalayak. Tapi inilah yang sebenarnya. Terbayang bagaimana mba Sophie bertahan untuk menutupi perasaannya dibalik karir yang melejit di atas panggung sebagai host ternama Indonesia, lantas membongkarnya dengan menulis sebuah buku. Dan dari bab ini cerita pun mengalir.

Lahir dan tumbuh di Singapura, menghabiskan masa kecil bersama kakek dan neneknya karena orangtua sibuk bekerja, pindah ke Indonesia di usia 12 tahun dengan “kejetlagan” luar biasa, dibully bukan hanya oleh teman tapi guru juga, tidak kunjung adaptasi dengan suasana Kota Jakarta. Semua latar belakang ini menciptakan seorang Sophie Navita hari ini.

Diceritakan sendiri dengan bahasa yang ringan, membaca buku ini gw berasa jadi lagi dengerin langsung mba Sophie bercerita tentang lika liku hidupnya sebagai anak, kakak, istri, ibu, wanita karir, sebagai perempuan, yang tentunya tidak mudah. Perjalanannya sampai di titik hari ini, dengan profesinya yang sudah berpindah haluan jauh dari lampu sorot dan kamera sangat menarik untuk disimak. Gw cuma butuh 3 jam untuk mengunyah semua isi buku. 1 jam saat Ghina tidur pagi, 1 jam saat Ghina tidur siang, dan sisanya saat Ghina tidur malam. Gabisa berenti deh pengen boboin Ghina karena rasanya gamau berenti jugak baca bukunyaa ekekek (lagi lagi kejahatan ibuk) 😌

Di setiap bab selalu adaa aja hal yang nyenggal nyenggol hati gw, duh ini gw nih, duh ini jugaak. Kyaaaaaaaa! Rasanya kayak lagi ngaca, tapi bayangan di kaca nunjukin berenjolan jerawat jerawat yang udah ditutup tutupin pake BB cream biar ga nampak. Duhh~

Daan, selesai baca bukunya, gw merasa dapet banyak transferan vibrasi positif. Semangat menjalani esok hari dengan kacamata baru. Optimis. Fokus dan asyik dengan apa yang telah gw pilih untuk lakukan, karena ..

Semua keputusan memiliki konsekuensi. Opt in, Opt out. You choose to stay or walk away, stop complaining and face the consequences. (HYGAO, hal.63)

Juga melakukan segala hal tanpa perlu mengharapkan apapun dari orang lain. Apalagi mengurus urusan orang lain 😅. Cukup lakukan dengan niat untuk membahagiakan diri sendiri, karena dengan hati yang gembira, kita bisa melakukan lebih banyak, lebih manfaat. Dan ..

Jika ada yang menghargai apa yang saya lakukan, terima kasih. Jika tidak, maka kebahagiaan saya adalah tanggung jawab saya sendiri dan tidak pernah ada di tangan orang lain. (HYGAO, hal.18)

Membaca bagian ini rasanya jadi ringan ya. Dengan mengenali diri sendiri, jadi jelas mau gerak apa dan kemana, tau apa yang mesti dibawa dan apa yang bisa dibuang. Terutama yang di hati dan pikiran, motor dari hati yang gembira. Fresh 🌳

Ditulis juga berbagai resep andalan mba Sophie yang kini berprofesi sebagai Plant-Based Holistik Chef. Apakah itu? Silakan baca bukunya. Karena gw juga baru tau tentang adanya hal semacam itu. Baru menyadari kenapa di cover ada gambar mba Sophie lagi membawa segelas jus berwarna hijau yang kelihatan seger bener bikin ngiler. Ternyata jus itu ada juga resepnya di buku ini, eh tapi gw yang tadinya mau ngikutin resepnya gajadi setelah melihat komposisinya terlalu sehat, gw doyan ga yaah 😂 Green juice tak selalu alpukat, dear Bebe ..

Buku ini ditutup dengan satu kisah lagi yang bikin nganga, dan kembali ngga nyangka. Ahh pokoknya mesti baca! Gw udah selesai baca, yang mau pinjam boleeehh 😇

Akhirnyaa, terimakasih Ibu Founder KIMI, Asri Fitriasari untuk challenge Maret 2018 ini: baca dan review HYGAO. Accepted. Ngecharge abiss. Dan mba Sophie Navita yang sudah menulis buku ini, you are so inspiring! 💫

The Power of Dibandingkan #2

Posted: 12 March 2018 in Uncategorized

Bapak sering bilang begini,

Di rumah ini Bapak yang paling tinggi dan paling jauh sekolahnya.

Saking seringnya mendengar ini aku sebenarnya jadi agak bingung, Bapak lagi serius, atau lagi bercanda.

Kalo bercanda, ya berarti didengarkan saja kisah selanjutnya. Tapi kalo serius, berarti ini adalah kode kalo Bapak pengen anaknya sekolah tinggi yang jauh jauh ke luar negeri. Pengen beneran kejadian.

Nah, sejak merasa salah jurusan di Fakultas Kedokteran Gigi, lalu gatau juga kalo ga masuk situ pengennya apa. Aku mulai hati hati dalam meniatkan segala sesuatu.

Dulu aku pikir apa yang jadi masukan Bapak atau Ibu adalah apa yang akan aku lakukan. Aku jarang berpikir lebih panjang atau lebih berat sejenak sebelum bertindak. Layaknya robot, dengan dalih taat pada orangtua, aku melakukan semuanya sesuai instruksi. Aku menikmati disuruh jadi ini, disuruh melakukan itu, jadi gausah mikir banyak banyak kaan 😁

Aku tidak sadar, semua konsekuensi, aku yang menanggung. Aku pun baru menyadari, aku semakin tidak kenal pada diriku sendiri. Bukannya aku menyesal sudah menuruti semua hal yang orangtua suruh, toh saat melakukannya aku senang senang saja. Tapi ..

Aku menyadari yang aku lakukan bukan untuk Allah, tapi untuk membahagiakan orangtua saja, agar aku menjadi lebih baik di mata mereka dari anak yang lain. Bukankah itu yang dinamakan pencitraan?

Aku tidak ikhlas. Semakin sadar tidak ikhlas karena jika ada yang tidak sesuai dengan apa yang aku mau, atau posisiku jatuh dari atas, gagal, hatiku sakit. Awalnya aku tidak pernah bisa paham rasa apa ini, seperti ..

🎼 Ku ingin marah, melampiaskan, tapi ku hanyalah sendiri disinii, ingin kutunjukkan pada siapa saja yang adaa, bahwa hatikuu, kecewaa~

Jujur ga mudah menarik kesimpulan ini, berat. Aku menggali gali hatiku sendiri sampai kutemukan bongkahan kejujuran disana. Jujur jika bapak tidak suka rasanya ingin aku perbaiki -walau mengorbankan apapun jua- hingga bapak suka, jujur jika bapak puji aku bahagia tak terkira, jujur jika adik adikku iri, aku menikmatinya, akulah anak terbaik hahaha 🤖

Padahal suka tidak suka itu relatif. Dan orang bisa suka dengan kita hari ini, besok sudah tidak lagi. Seperti mengejar hal yang tidak mungkin didapatkan, yang ada cuma ngosngosan, capek dan akhirnya menumpuk banyak amarah karena kekecewaan.

Kembali ke topik di awal cerita, aku benar benar sampai kepikiran untuk sekolah lagi. Mudah sekali otakku dibelokkan dan rasa nurut itu muncul. Pendapat Bapak itu memang benar, semua Bapak rangkum dengan kata kata yang menggugah jiwa, dengan latar belakang Bapak yang istimewa, dan kemasan cerita yang menarik. Aku tertarik.

Padahal aku punya 2 balita, yang sebelumnya otakku sudah cukup waras untuk mendampinginya dengan maksimus. Sekolah kedokteran gigi spesialis adalah pagi sampai sore setiap hari. Intinya, ngga Ibuk banget pada hari ini lah. Jika pendapat Bapak itu benar, pertanyaannya adalah, benar untuk siapa?

Perlahan aku sadar, ada lagi yang mesti kuubah dalam mengambil keputusan, aku mesti bertanya pada diriku dalam dalam, pada diriku yang jarang lama lama kuajak berbincang. Pada diriku yang sering kuajak nekat demi kebanggaan orang. Aku tidak pernah berpikir kalau Bapak juga bisa kok bahagia dengan aku apa adanya, karena Bapak akan bahagia jika aku pun begitu. Seperti Bilqis dan Ghina untukku.

Tidak ada yang salah dari pendapat Bapak, aku yang salah menanggapinya. Aku memaksakan standar orang lain menjadi standarku. Aku menginginkan kehebatan orang lain mampir juga dalam hidupku. Perbandingan perbandingan yang umum dilakukan orang lain terlalu serius kuajak ke kamar. Padahal itu bukan aku.

Dan karena ini adalah orangtua, tipis sekali perbedaan membahagiakan orangtua dan memanfaatkannya untuk pencitraan. Meski hanya di rumah. Lalu tulisan ini akan menuai kontroversi karena seakan akan aku tidak suka taat pada orangtua, terus kenapa mesti dipikirin Bebe .. wkwkwk

Ahh Bebe, jangan lupa bahagia ya hari ini 💋

The Power of Dibandingkan #1

Posted: 12 March 2018 in Uncategorized

Namanya Fatiha. Seorang keponakan. Anaknya Khadijah, adikku. Umurnya hanya beda 3 bulan dari Ghina. Ghina lahir kemudian. Kami hamil bersama. Bergantian mual di trimester pertama. Senam hamil, renang, sarapan, jalan jalan ke babyshop bersama sama. Berdiskusi tentang banyak hal terutama perbayian. Rasanya pengalaman seperti ini tidak bisa kudapatkan lagi. Bisa menikmati masa masa indah berdua antara adik dan kakak. Karena aku dan Khadijah hanya sementara bisa tinggal serumah seperti ini.

Pernah selintas lewat di pikiranku, apakah nanti setelah lahiran kita akan saling dengki dengan kondisi bayi kita satu sama lain? Jika ada kekurangan pada bayiku atau bayinya, atau karena kelebihan di antara 2 bayi kita. Saat itu aku tidak bisa membayangkan, lebih karena belum pernah langsung mengalaminya.

Lahirlah dia, Fatiha. Di akhir Desember 2016. Gendut, lucu, dan menggemaskan. Aku belajar mengingat mengurus bayi merah lagi dengan ikut mengurus Fatiha. Di awal masa hidupnya, Fatiha sulit menyusu dengan baik karena Tongue Tied. Beratnya sulit naik, lalu dilakukan insisi dan beratnya berangsur membaik.

Fatiha adalah happy eater baby, dia suka sekali makan apa saja dan minum susu dengan jumlah yang cukup banyak. Tidak pernah sulit makan kecuali saat saat sakit. Dia bisa duduk cukup lama di highchair untuk menghabiskan semua makananya. Tak heran beratnya sangat cepat naik dan naik. Badannya besar dan chubby, tidak ada masalah cukup berarti seperti yang sering dikeluhkan ibu ibu pada umumnya. Tidurnya cukup lama dan tidak pernah begadang. For me, Fatiha is a super easy baby 😁

Lahirlah Ghina di bulan Maret 2017. Gemas keterlaluan tak sanggup kujabarkan. Diikuti segala kespesialan yang pernah kuceritakan di tulisan sebelumnya. Kondisi tidak enak baru kusadari muncul ketika berat Ghina stagnan dan sulit makan saat mpasi dini. Qadarullah, kondisi Ghina seringnya berbanding terbalik dengan kondisi Fatiha.

Ghina yang tidak mau menyusu selain direct breastfeeding, Ghina yang seringkali muntah karena kebanyakan minum ASI (hingga aku merasa lelah menyusui karena semua keluar lagi), Ghina yang hanya sekejap bertahan duduk di highchair, Ghina yang tidak mau lepas dari gendongan ibunya, Ghina yang sangat picky eater, hanya yang menurut dia yummy yang dapat acc masuk ke mulutnya, Ghina yang selalu mengajakku begadang hingga hari ini. Hidup bersama Fatiha dengan segala kebalikannya. Menurut kalian, apakah aku tidak menjadi resah dengan keadaan bayiku?

Tentu saja IYA. Imanku tak sanggup menanggungnya. Aku jadi tidak bisa maksimal menikmati Ghina apa adanya. Segala kegemasannya jadi sulit kulihat. Mataku jadi siwer karena terus mengejar apa yang dicapai Fatiha. Aku terus membandingkan Ghina dan Fatiha. Bukan hanya aku, tapi semua yang melihat otomatis juga akan membandingkan, bukan? Aku jadi tidak tenang, dan rasa percaya diriku hilang.

Aku jadi susah untuk bersyukur.

Seiring berjalannya waktu, aku merenungkan apa yang mengganggu perasaanku. Cukup lama aku mengevaluasi untuk mendapat kesimpulan, apa yang kulakukan terhadap Ghina itu jahat. Ghina adalah Ghina, dengan segala kelebihannya. Aku mulai menyadari, senyum Ghina yang tak lagi lebar, sakit Ghina yang tak jelas apa, hanyalah vibrasi dari kejahatan sang ibuk. Pikiran pikiran semacam,

Fatiha beratnya segini, duh gimana ya ngejar beratnya Ghina biar sama.

Haha haha, hari ini aku merasa itu lawakan. Aku tidak sedang memuaskan netizen dengan bayiku, aku hanya perlu melayani Ghina dengan sebaik baiknya. Karena apapun keadaan bayiku, setiap orang tetap akan berkomentar apa saja, isi pikirannya adalah haknya sendiri dan merupakan kekuasaan Allah. Aku? Tidak usah, bahkan tidak perlu, mengatur ngatur isi pikiran orang, itu melelahkan.

Ghina dengan lambung yang mungil, tak bisa memasukkan begitu banyak dosis ASI, porsi makannya juga lebih kecil, makan sedikit sudah bisa membuncitkan perutnya. Berat Ghina tidak akan bisa sama dengan berat Fatiha, karena mereka berada dalam garis orbit yang berbeda.

Lama lama aku bisa melihat begitu banyak kelebihan Ghina. Si bayi dengan hati yang lembut, perkembangan komunikasi yang cepat, gerakan motorik yang lebih cepat dari usianya. Teknik belajarnya yang menakjubkan dan tidak mudah menyerah.

Di usia 5 bulan Ghina sudah dapat duduk tegak, 6 bulan aktif merangkak, 8 bulan mulai merambat, dan lancar berjalan di usia 10 bulan. Aku merasa dianugerahi kebahagiaan yang tidak bisa kubandingkan dengan segalanya.

Ghina adalah Ghina. Tidak bisa dibandingkan dengan bayi manapun. Karena Ghina hanya bersaing dengan dirinya sendiri di hari kemarin. Berjuang untuk menaikkan beratnya 100-200gr saja tiap bulan, sesuai target di buku Kesehatan Ibu dan Anak. Bukan 1-2kg demi mengejar ketinggalan berat dari bayi yang lain.

Akupun mulai fokus pada garis KMS saja. Dan you know what? Tak ada yang pernah benar benar buruk terjadi padanya. Semua baik baik saja. Beratnya tidak pernah berada di bawah normal. Hanya lebih rendah dari Fatiha, tapi semuanya tetap normal. Ibu hanya terlalu silau dengan kondisi tetangga.

Terimakasih ibuk, sudah kembali pulang dengan hati yang lebih ringan.

Mungkin itu yang ingin Ghina ucapkan yaa 😅

Ahh ibuk sayang Ghina dan Fatihaa, semoga berkah dan rahmat Allah selalu menaungi kalian dimanapun kapanpun 💚💛

Setiap perempuan berjilbab hampir pasti pernah mengalami ini. Terutama yang slebor macem siapa gitu (aih). Mengalami apa? Kepergok lelaki dalam keadaan gapake jilbab.

Adaa aja kejadian kejadian dodol yang bikin kejebak dalam situasi begini. Biasanya karena kita gatau kondisinya, atau emang lelaki tersebut nyelonong masuk rumah. Sebut saja mamang galon yang merasa heroik karena melayani pelanggannya sampe ke dispensernyah. Atauu, tamu ketok ketok, kita nyari jilbab, tamu tak tahan ingin masuk, jilbab yang mecing ga ketemu, eh tamunya malah ngintip 😒

Daan, hampir sepanjang kehidupan perjilbaban biasanya, kalo kejebak dalam situasi begini pasti responnya adalah panik dan teriak 😱

Kyaaaaaaaa

Dimana hal tersebut bukannya bikin beres malah bikin tambah runyam. Perempuan teriak, lakinya yang tadinya ga merhatiin malah jadi merhatiin. Heu. Terus yang tadinya doi gatau kalo kita tuh sebenernya aslinya pake jilbab atau ngga malah jadi tau kalo kita sebenernya pake jilbab. Dsb dsb nangis nangis dah.

Soo, saya akan menawarkan solusi cerdas jika anda terjebak dalam situasi menyebalkan seperti itu.

Tenang, kalem aja, pergi kabur, mau lari atau jalan sigap boleh tapii gaperlu teriak. Apalagi abis itu kepo, eh tadi liat ga sih dia? Liat ya? Aahhh gimana niih 🙄😑 Intinya semua gejolak yang bermunculan mohon ditahan, ini ujian.

Karena pada dasarnya, lelaki seringnya ga nyadar apa apa. Ciyusli. Kalopun nyadar, yaudah diem aja, gausah dibahas. Cuekin. Perlihatkan sikap kalo itu gaperlu dibahas bahas. Cukup. Ini solusi teknis agar efeknya ga terlalu lebay ya, solusi hati yang merasa acakadut silakan diurus masing masing 😬

Beberapa hari lalu saya ke dokter gigi. Kata dokternya, gigi saya bagus dan tidak ada lubang sama sekali (((Yeeaaaayyy))) 🎊 Dokternya bingung mau ngapain, ngebersihin karang gigi juga ga ada. Dia akhirnya cuma takjub dan turut berbahagia. Ketika datang ke klinik saya mengaku sebagai ibu rumah tangga beranak dua yang terakhir ke dokter gigi sekitar 6,5 tahun lalu.

Iya, saya memang dokter gigi, tapi gigi saya kan bukan baru dirawat ketika mulai kuliah di FKG. Tapi sejak kecil. Oleh ibu saya. Saya dibiasakan untuk menyikat gigi sebelum tidur sejak dahulu kala. Di FKG saya mendapat ilmu teknik menyikat gigi yang baik dan benar. Rasanya jadi lengkap. Tapi gosokan kedisiplinan membersihkan gigi di rumah sejak kecil gapernah bisa saya lupakan. Sepenting itu. Setidaknya menurut ibu saya kala itu.

Tidak jarang saya kedatangan pasien anak balita, dengan kondisi lubang gigi dimana mana. Lubang besar, keropos, gigis, bengkak bahkan diiringi demam. Usianya masih kecil sekali. Kenapa giginya sudah tidak bisa digunakan dengan baik? Adakah yang menyadari bahwa gigi berlubang besar itu awalnya kecil ngeet dan bisa tuntas dengan ditambal sebentar saja dengan harga super irit?

Apa yang balita rasakan jika giginya sakit? Rewel, tidak nikmat saat makan, tidak mood main, sedih, intinya adalah: kualitas hidup menurun. Dan mereka, belum bisa mencari solusi paling tepat untuk menyembuhkannya. Karena hidup mereka, masih sangat tergantung pada orangtuanya. Usai sudah jika orangtuanya abai.

Jadi?

Jadii, jika setiap bulan ibu dan balita akan dikontrol di posyandu. Kenapa tidak minimal 6 bulan sekali saja, layaknya bidan, dokter gigi juga diturunkan ke setiap posyandu untuk mengontrol kesehatan gigi anak. Juga mengedukasi kesehatan gigi dan mulut pada orang tuanya. Saya kurang tau itu sudah ada atau belum dalam program posyandu. Tapi saya yang juga kadang rajin kadang mager jika ada jadwal posyandu, belum pernah mendengar ada program yang aware terhadap kesehatan gigi anak terutama balita.

Bayangkan, jika di setiap posyandu bayi dan balita diperiksa kesehatan giginya. Tentu saja angka karies (gigi berlubang) bisa menurun drastis. Karena akan banyak pencegahan yang dilakukan oleh ibu untuk anak kesayangannya. Ilmu akan membuat mereka bergerak. Dan pencegahan selalu lebih mudah dan murah. Semuanya gampang, jika sudah paham. Semuanya mudah, jika dilakukan bersama sama.

“Hai kamu udah sikat gigi?”

“Udah doong, liat niih 😁”

“Ih kamu makan permennya banyak bangeet”

“Tenang aja aku habis makan permen mau makan apel kok, apel ini bisa bersihin gigi jugaa kata dokter gigi kemariin.”

“Buu, gigi anaknya ada yang bolong nih, geura ditambal ke puskesmas.”

“Iya bu, mau besok insyaaAllah, nuhun yah bu udah ngingetin.” (Maksa bet Shal pake pake sunda 😂)

Indahnyoo 🌈

Boamlahyaa sama yang tetep ga peduli, karena jika mayoritas mak emak udah aware sama kesehatan gigi anaknya, niscaya mak emak lain akan iri hati dan dengki, mana sudi gigi anaknya bolong. Nooowaay!

Goalsnya, kualitas hidup anak akan meningkat, karena gigi hanya satu, di tempat yang itu, dengan fungsi itu, tidak bisa digantikan. Mereka punya waktu waktu khusus untuk lepas dan digantikan. Tapi bukan berarti bisa santai santai karena ini gigi susu.

Saya sangat ingin ini bisa terealisasi. Bogor Bebas Karies. Karena kesehatan gigi dan mulut berpengaruh pada banyak sekali aspek, fungsi bicara yang setiap hari dilakukan, makhorijul huruf saat membaca Al-Qur’an, fungsi pengunyahan apalagi yang nyambung sekali sama pencernaan hingga pengeluaran, fungsi estetika yang gabisa dipungkiri sangat berpengaruh pada rasa percaya diri anak.

Kesehatan gigi memang bukan segalanya, tapi jika satu gigi sakit bisa mengganggu segala galanya. Melek gigi sehat itu mudah, jauuh lebih mudah daripada merawat gigi yang sakit. Dan jika dirasa kesehatan gigi ini kurang penting, maka saya yang mendalami ilmu kedokteran gigi, memiliki kewajiban untuk menyampaikan bahwa: kesehatan gigi sangat penting.

Bukannya kita males penyuluhan kemana kemini. Cuma segores tanda tangan walikota tuh bisa menciptakan jalan potong menuju Bogor Bebas Karies jadi dekat dan nyata 😍

Sekiaaan 😎

Ujian Lemesin #3

Posted: 8 March 2018 in Uncategorized

AYAAH!! Itu Ghinanya diliatin doong, jangan main hape meluluuk!

Aku baru liat hape buuk

OH really?! (Muka iseng)

Lain waktu,

Haah masa bajunya itu celananya itu sih yaah. Mestinya tuh ininiih, ini mah buat pergi. Lagian bukan pasangannya. Emang bagus ya menurut kamu kayak gitu? Ga cocok banget banget.

Baguus~

Yodah kalo menurut kamu bagus (sambil berbisik dengan tatapan menusuk)

Lain kesempatan,

Ya ampunn kapan beresnya kalo nyuapinnya kayak gitu, masukin semua sendok ke mulutnya, jangan ujung ujungnya doang. Jadi celemotan kemana mana pula ihh..

Apa sih ibuuk tenang ajaa, yang penting anaknya mau makan

Ngga bisa ayah, itu semua soalnya harus habis, kalo ngga gimana mau naik beratnya. Itu seporsi mahal banget kalo diitung, keju, mentega, sayang kalo kebuang buang (muka nenek sihir udah gapaham lagi)

Yayayaa~

Itu adalah adegan adegan nyata rumah tangga kami di awal awal ayah bantu ngasuh Ghina. Seakan akan sebelumnya gapernah ngasuh bocah, kita mengulang lagi segala kehebohan ngurus bayi bareng bareng.

Daan jiwa nenek sihir sudah berkembangbiak menjadi lebih ganas dari sebelumnya, gw sebagai ibuk yang sudah duluan bikin SOP sendiri untuk ngurus bayi jadi galak macem induk ayam keilangan anak. Karena perbedaan cara ayah ngurus bayi, selalu memancing kegemasan.

Bukan sekedar beda cara aja sih, tapi agak nyeleneh juga -menurut ibuk- 😂. Jadi ya ga bikin yakin mau nitip lama lama. Tapi apa mau dikata, gw butuh banget banget peran ayah ini, di sisi lain Bilqis yang sebelum kelahiran sudah solihah sekali mau nurut ini itu kalo adiknya sudah lahir seakan akan lupa semua materi per-kakak-an dan malah hobi banget bilang ..

maunya sama ibuuk, maunya sama ibuuk, gamau sama ayaah 😑

Beklah. Dan karena gw selalu kebanyakan ngatur kalo Ghina lagi sama ayahnya, Ayah kasi syarat untuk jangan berisik dan terserah doi aja gimana teknis pelaksanaannya. Nurut aja deh tobat tobaat.

Karena lelah emang kalo jadi tukang ngatur, rasanya ga ada yang bener. Tiap ngeliat ayah dan bayi jadinya cuma bisa nahan nahan ga ngeluarin ocehan menyebalkan, ngatur nafas, breaath, inhale exhale. Huh hah 😨

Dan ternyataa~ semua baik baik aja dan bisa dilaksanakan sesuai standar (wkwwk sesuai standar bet ah ibuuk). I mean, cukuplah daripada ngerjain semuamuanya sendiri ekekek. Pelan pelan dengan pertahanan gw untuk ga komen ayah bisa melakukan banyak hal untuk Ghina dengan lebih pro 👏

Kalo awal awal setiap Ghina diserahkan ke ayah selalu nangis (akibat emak ga ikhlas) sekarang Ghina mau menyambut dengan tangan terbuka untuk digendong ayah. Dan mereka bisa cekikikan berdua.

Makin sadar kalo ga semua mesti sesuai aturan kita, dan anak selalu bisa menangkap hati yang tulus dan sayang padanya walau caranya belepotan (iih ibuk nakal banget siik 😁). Belajar fokus sama goal walau caranya berbeda. Belajar untuk ga kayak kanebo ketinggalan di garasi, kering, kaku.

Lain waktu jika tak tahan lagi ingin komentar, gw memilih untuk ga lihat, pergi aja. Ayah butuh quality time juga dengan bayi lucunya. Nikmatilah waktumu dengan baik ibuk sayaang 😅😘