Sang Pemegang Mic

Posted: 14 June 2016 in Uncategorized

Shalat tarawih di masjid bukanlah kebiasaan yang saya jalani. Sejak kecil saya terbiasa shalat tarawih berjamaah di rumah dengan seluruh personil keluarga tanpa kecuali. Jadi ga ada yang ke masjid. Kecuali ikut bapak pas lagi jadi imam di masjid, tapi niatnya lebih ke naik mobil sama bapak malem malem, seru dan keangetan :p

Saat ngekos di jatinangor pun, karena kosan akhwat, shalat tarawih dilaksanakan berjamaah di mushala kosan. Kali itu pun saya masih tidak tau bagaimana kondisi umat muslim sedunia yang hobi tarawih di masjid, sampai saya ngekos di bandung . . .

JENG JENG JEENG

Di kosan bandung ini, ketika pertama kali tarawih, saya berniat ajak beberapa orang berjamaah saja di kamar seseorang. Eh tak taunya sebelum muadzin adzan isya, orang orang udah pada siap mau berangkat ke masjid. Saking siapnya sudah pakai mukena dari kosan. wow wow wow. Oke saya pikir, mungkin ini saatnya mencoba.

Saya pun bersiap ikut ke masjid juga, dan coba pakai mukena dari kosan. Tarawih pun dimulai. Dan yak selama shalat saya malah rungsing sendiri. Geser ke kanan, sebelah kiri ga ikut merapat, narik lengan yang di kiri, doi malah mengencangkan diri tertancap di tepatnya berdiri, gamau geser. You know what??? SHAFNYA RENGGANG RENGGANG!!!

Ih kesel banget loh ini, ada lagi tambah sebel melihat kenyataan ternyata mereka bertahan di atas sajadah masing masing, yang mana sejadahnya itu besar, jadilah bikin shaf makin kacao balao. Ada lagi pas beberapa rakaat, eh dia malah kabur dengan alasan entahlah karena saya bukan guru piket. Terus ga ada yang geser menutup shaf yang berlubang. Lah ini kok malah jadi kayak shalat rawatib masing masing. KYAAAAAAA

Dalam benak yang histeris, terpikir gimana ya caranya biar shafnya rapat dan rapi. Masa harus digeser satu satu kayak pas di TK T.T Ini harusnya imamnya sih yang bilang. Argh bodo amat. Sorry to say, sejak hari itu saya tidak lagi ke masjid untuk bertarawih. Saya lebih memilih shalat sendirian di kamar kosan. BYE.

***

Beberapa hari yang lalu saya kembali tarawih di masjid. Pasalnya, masjid dekat rumah saya ini baru dibangun. Imamnya al hafidz dengan bacaan yang tartil dan indah didengar, tidak terburu-buru. Wah mungkin di masjid itu shafnya rapat. Saya bersemangat mengajak ayah shalat tarawih di masjid ini.

Bangunan dan suasananya memang berbeda dengan masjid lain. Lebih modern dan nyaman. Namun ketika Isya akan dimulai dan semua jamaah berdiri. Saya dihadapkan kembali dengan kisah masa lalu. Yepp, saya ada di baris ketiga, tapi bisa melihat space yang cukup untuk saya isi di shaf pertama -__-. Majulah saya ke shaf pertama itu. Imam mengingatkan untuk merapatkan shaf dan merapikan barisan ma’mum. Di barisan ikhwan terlihat semua merapat. Anehnya, di barisan akhwat ini, tidak terjadi pergeseran yang signifikan. WHHYYY?!

Apa saya harus bantu teriak juga buat ingetin kalo shafnya masih bolong bolong. Atau harus angkat tangan untuk bilang ke imam jangan mulai dulu ini belom rapet looohhhh. Atau gimana dong? Hhhhh. Sungguh selama di masjid saya malah jadi mikirin gimana caranya biar rapet nih barisan ibuibu. Saya bukan siapa siapa disini, gapunya pengaruh. PENGARUH! Saya langsung ingat mic. Hanya suara dari mic yang lebih berpengaruh. Maka saya pikir kalau saya sampaikan keluhan ini ke panitia atau imam mungkin bisa terjadi perubahan. Oke akan saya eksekusi setelah tarawih ini.

Saat itu imam dan panitia sedang melingkar di barisan ikhwan. Saat jamaah sudah berpulangan, saya dekati salah seorang dan sampaikan masalah shaf akhwat tersebut. Apalagi saya tidak bisa ikut tarawih setiap hari karena jadwal praktek, setidaknya saya sudah sampaikan. Mereka meresponnya dengan baik. Saya pun pulang dengan perasaan yang lebih lega 🙂

Sudah lama saya tidak ke masjid tersebut karena jadwal praktek yang penuh. Suatu hari saya tanya seorang adik saya yang kadang tarawih juga di masjid itu. Ternyata kondisinya masih sama saja. Shaf akhwat masih renggang. Haduh, jadi agak sedih. Saya pikir seorang pemegang mic mampu membuat perubahan. Ternyata tidak selalu dan tidak semua begitu. Maka tentukan pemegang mic di masjidmu dengan baik dan benar. Bukan cuma ngaji, tapi juga aksi.

Bagaimana kalau saya yang pegang mic? Mungkin jadi seperti saat latihan shalat di SD.

Ayo shafnya dirapikan. Semua harus rapat tidak ada jarak ya! Shalatnya tidak akan dimulai kalau belum rapat. Ibu yang pakai mukena floral vintage mohon menempelkan diri ke ibu mukena padang warna coklat itu. Nanti kalau di tengah shalat ada yang mau ke toilet, gapapa bu digeser saja langsung rapatkan lagi barisannya. Sajadah orang itu gapapa kita pakai, yang penting rapat. OKE semuanya sudah rapat yaaah? Alhamdulillah,, Markishool, Mari kita sholaat!

eh apa perlu bawa mic wireless ya kalo ke masjid

. . .

“Luruskanlah shaf-shaf, sejajarkanlah pundak dengan pundak, isilah bagian yang masih renggang, bersikap lembutlah terhadap lengan teman-teman kalian (ketika mengatur shaf), dan jangan biarkan ada celah untuk (dimasuki oleh) syaithan. Barangsiapa yang menyambung shaf maka Allah akan menyambungnya (dengan rahmat-Nya), dan barangsiapa yang memutus shaf maka Allah akan memutuskannya (dari rahmat-Nya).” [HR Abu Daud (666). Hadits shahih.]
 

 

Advertisements
Comments
  1. zahra says:

    Kakak… Sekarang teh domisili di mana? Kalau di masjid At Taufiq Paledang alhamdulillaah shaf rapat. Ibu2 berwajah Arab yang sukarela mengatur barisan. Tanpa ragu-ragu meminta jama’ah pindah ke sana ke mari, geser-geser sampai jauh meninggalkan sajadah masing-masing juga..

  2. asriFit says:

    ya ampuuuuun aku juga merasakan kegalauan dan kekesalan yang sama kalau shalat jamaahan di mesjiiiidddd. floral vintage sama padang coklat banget nih shal???? HAHAHAHA

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s