HOMEcare

Posted: 5 June 2013 in Uncategorized

untuk apa?

untuk mengetahui apakah cara menyikat giginya sudah cukup benar atau belum dok, dengan melihat nilai plak score

haduh, bukan itu, kamu kan ngajarin pasien kamu cara sikat gigi yang bener, setelah itu?

setelah itu saya kontrol dok, saat kontrol saya hitung plak scorenya dok

duh, kamuu, bukan ituu, sebelum pasien kontrol?

hmmm apa ya dok?

masa kamu ngga tau sih, ini pasien kamu kan? kamu suruh apa diaa?

disuruh .. hmmh ..

*apa yaa setelah diajarin sikat gigi, sebelum dikontrool,, #malahjadikosongisikepalakalodokterteriakgitu*

jadi apa??!

.____.

HOMECARE nooonn!

ooh iya homecare dok! 😀

iyaaa gimana sih kamu, kan sudah kamu ajarin, ketika kamu kontrol itu fungsinya selain menanyakan keluhan, kamu memastikan kalau homecare dilakukan, sehingga apa yang kita ajarkan bukan cuma masuk kuping kiri keluar kuping kanan pasien, tapi merubah perilaku dan kebiasaan buruk pasien, ngerti kamu?

iya, ngerti banget dok, homecare, lupaaa :s

YUUP

itu adalah sekilas percakapan diskusi kasus gw beberapa waktu lalu dengan seorang dokter yang udah doktor. eh kalo DR. Shaliha gitu ga cocok kan ya? iya gw ga akan sekolah lagi kalo gitu. nanya aja ke papa kalo ga ngerti apa gitu. katanya sih orang yang bertanya akan bodoh selama 5 menit, yang ga nanya bodoh poreper en eper eper.

lanjut cyin,,

kalo kasus gw dibentak bentak waktu lagi diskusi, itu biasa. kalian gausah khawatir, udah terlalu sering jadi sante aja ngadepinnya bisa pake jurus nyengir”. kalo masalah gw gabisa jawab, itu selalu terjadi pada setiap koass yang lagi diskusi face to face sama dokternya, sebenernya kita tau banget jawabannya, ada banget di catetan yang kita baca 5 menit lalu (!) tapi sayangnya bentakan yang udah biasa itu resikonya emang menghapus beberapa memori, terutama memori” yang masuk dengan metode SKS hahah –”

nah, saat dokter tadi teriak HOMECARE!

DEG (!!!)

gw langsung banget keinget sama sesuatu

guess what? amalan yaumi (!!!)

menyikat gigi dengan cara yang baik dan benar sepulang dari memeriksakan gigi ke dokter gigi yang membutuhkan perawatan lanjutan di rumah oleh diri sendiri, dengan kesadaran diri untuk melakukan sikat gigi dengan cara yang benar tanpa sang dokter mengingatkan lagi, tapi menjadi kebiasaan alam bawah sadar, membentuk kesadaran bahwa kita butuh menyikat gigi dengan cara yang benar, tau tujuannya, tau bagaimana menuju tujuan tersebut (oke ini kalimat buruk banget karena kepanjangan).

begitu juga amalan yaumi, kerjaan harian ini gabisa lancar karena suatu hari kita belajar islam, pengajian dimana, terus besoknya udah biasa ngerjain amalan yaumi. butuh homecare untuk membiasakan amalan ini menjadi rutinitas kita sehari-hari. mungkin awalnya selalu diingatkan, dan saat belum menjadi kebiasaan, butuh sekali kontrol berulang-ulang. jika perilaku sudah berubah dan kebiasaan baru sudah menjadi rutinitas yang dibutuhkan tak lagi dipaksakan, evaluasi bisa dilonggarkan namun jangan sampai hilang.

gw ingat seorang pernah bertanya gini nih kurang lebih:

“shal, kenapa sih di kelompok mentoring atau liqo itu suka disuruh nyatetin jumlah QL, shaum, shalat berjama’ah, tilawah, hafalan, baca buku sampe ke olah raga dan kumpul keluarga silaturahim, ribet beet, kalo beramal kan gausah dicatet, lakuin aja dengan ikhlas ..”

mungkin ada yang punya pertanyaan sama ya 🙂

gini, buat yang dalam hidup ini gapernah nulisin gituan, ga berkumpul sama komunitas apapun untuk evaluasi hal tersebut minimal tiap pekan, ga bahas sedikitpun demi menjaga rahasia amalan dan keikhlasan. mo nanya saya, tadi pagi QL? tilawah hari ini udah berapa halaman? dhuha udah? senin kemarin shaum?

Gimana jawabannya? Ceklis-ceklis? Atau cross crooss? Hehehe 😀

Kalo saya jujur, saya bisa ngapaian aja saat sendirian di rumah, jika tidak mempunyai awal paksaan untuk menuliskan amalan yaumi untuk apa saya lakukan amalan” tersebut? mungkin bisa untuk maksa maksa ngancem diri sendiri melakukan amalan yaumi dengan baik tanpa evaluasi” itu, tapi keistiqomahan apakah bisa terjaga dengan baik?

niat awal yang dipaksa melakukan, diinstruksikan untuk menulis amalan cobalah saja kerjakan dahulu, itu adalah proses pembiasaan. saat evaluasi akan muncul perasaan kalah dan menang jika teman kita ternyata lebih berhasil homecarenya, dia lebih banyak hafalan dan tilawahnya, maka semangat kita memuncak dengan niat masih untuk bersaing amalan yaumi. ah apalah buruknya bersaing untuk kebaikan? toh lama kelamaan kita sendiri yang akan membutuhkan amalan-amalan tersebut. tak peduli dievaluasi atau tidak. semakin bertumbuh, niat kita akan terhidayahi pula, insyaAllah, dengan izin Allah.

tapi semuanya kembali pada diri kita masing-masing. Bagi saya, pun saya kuat-kuatkan diri sendiri untuk mengingakan diri sendiri tentang amalan yaumi ini, saya tetap punya kewajiban mengingatkan yang lain. Bukankah kita umat yang saling menasehati dalam kebaikan dan kesabaran? 🙂

dan homecare selalu butuh kontrol, selalu ya, harus kata dokter doktor tadi 😀

sebagai manusia saya paham sekali, jika pekan ini rutin saya lakukan QL, dhuha, shaum, shalat berjama’ah, dkk dengan bergairah sekali, pekan depan belum tentu kita sesemangat pekan sebelumnya. iman yang fitrahnya tak stabil ini butuh pengingat. maka jangan bosan lakukan evaluasi. jangan bosan berkumpul dengan orang-orang shaleh kata opik. Bukan dokter opiik taapii opik penyanyiiii

ke dokter gigi pun, meski sudah benar cara kita merawatnya sendiri di rumah, minimal kita harus memeriksakannya kembali ke dokter gigi 6 bulan sekali kan? Yuk ah !

apalagi kalau kita perempuan .. saya nemu hadist ini kemarin di kitab hadist imam bukhari yang super shahih 😦

Diriwayatkan daripada Abdullah bin Umar r.a katanya:

Rasulullah s.a.w telah bersabda: “Wahai kaum wanita! Bersedekahlah kamu dan perbanyakkanlah istighfar memohon ampun. Karena aku melihat kaum wanitalah yang lebih ramai menjadi penghuni Neraka.”

Seorang wanita yang cukup pintar di antara mereka bertanya:“Wahai Rasulullah, kenapa kami kaum wanita yang lebih ramai menjadi penghuni Neraka?”

Rasulullah s.a.w bersabda: “Kamu banyak mengutuk dan mengingkari suami. Aku tidak melihat mereka yang kekurangan akal dan agama yang lebih menguasai pemilik akal, daripada golongan kamu.”

Wanita itu bertanya lagi: ”Wahai Rasulullah! Apakah maksud kekurangan akal dan agama itu?”

Rasulullah s.a.w bersabda: “Maksud kekurangan akal ialah penyaksian dua orang wanita sama dengan penyaksian seorang lelaki. Inilah yang dikatakan kekurangan akal. Begitu juga wanita tidak mengerjakan sembahyang pada malam-malam yang dilaluinya kemudian berbuka pada bulan Ramadan kerana haid. Maka inilah yang dikatakan kekurangan agama”

marii semangat laksanakan dan evaluasi terus perawatan homecare ruhani kita ^^/

Advertisements
Comments
  1. tiaravita says:

    Anw, ajarin aku cara sikat gigi yang bener dong shal 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s