Memperbaiki Kebaikan

Posted: 18 September 2012 in Uncategorized

“menjadi anak yang baik”

adalah motto hidup saya sejak kecil. Jika ada form berisi motto, maka saya akan menuliskan hal berkutip di awal tulisan ini. Motto itu hingga saat ini juga masih tertulis di schedule board kamar saya hingga hari ini.

Menjadi anak yang baik berawal dari segala hal yang saya lakukan adalah instruksi ibu yang harus dipatuhi. Bagi saya, tidak menuruti apa kata ibu itu sama dengan nakal, bukan anak baik. Oke, jadi saya sangat tau apa yang harus saya lakukan selanjutnya. Lakukan apa yang ibu katakan. Jika disadari, sebagian besar tulisan saya di blog ini pun melibatkan ibu di dalamnya. Bagaimana tidak? Hidup saya selama 17 tahun sebelum kuliah hanya berisi ibu, rumah, dan sekolah.

Namun, baik menjadi tidak sekedar baik setelah saya melewati longweekend kemarin, hari libur sejak kamis-ahad pada tanggal 17-20 mei 2012. Di salah satu malam di antara malam malam liburan di rumah itu saya disuguhi ceramah pra nikah oleh Bapak. Pembicaraan di meja makan ini sebenarnya sangatlah panjang nan lebar. Tapi saya tidak akan mengulas semuanya. Lupa soalnya << *merusak*

Saya diingatkan lagi tentang hal ini:

Muslim yang baik mungkin menjadi salah satu kriteria pasangan hidup muslim lainnya. Tapi sejauh apa definisi kita tentang muslim yang baik? Seorang muslim yang shalat 5 waktu tanpa tertinggal setiap waktu apakah disebut baik? Yang melakukan dhuha dan tahajud di sela kesibukan dan luang waktunya, apakah dia dapat dipastikan baik? Yang melakukan puasa sunnah di setiap senin kamisnya? Apa dapat dipastikan baik? Tilawah 1 juz sehari cukupkah?

Seharusnya tidak sekedar ibadah yang dijadikan patokan kebaikan, tapi kebermanfaatan muslim tersebut dalam memperjuangkan diennya menuju Rahmatan lil ‘alamin. Sebagai muslim jelas kita diwajibkan beribadah, alasan Allah menciptakan manusia adalah untuk beribadah kepadaNya. Lantas apakah muslim yang baik akan menikmati SyurgaNya sendirian? Menjadikan dirinya takwa seorang diri?

Saidina Umar Al-Khattab berkata,

“Tiada Islam Tanpa Jamaah, Tiada Jamaah Tanpa Kepemimpinan, Tiada Kepemimpinan Tanpa Ketaatan”.

Sabda Nabi Sallallahu alaihi wassalam mahfumnya:

“Tangan Allah bersama-sama dengan jamaah. Sesungguhnya serigala itu hanya akan (dapat) memakan kambing yang terpisah dari kumpulannya.” (Abu Daud)

Allah berfirman, “Sesungguhnya Allah mengasihi orang-orang yang berperang untuk membela agama-Nya, dalam barisan yang teratur rapi, seolah-olah mereka sebuah bangunan yang tersusun kokoh”. ( As-Shaf:4)

Ternyata oh ternyata, menjadi baik saja masih jauh langkah menuju cita-cita paling mulia 😦

sekian

 

Shali: udah gitu aja?
Bebe: iya ..
Shali: Tega?
Bebe: emmh ga tega si
Shali: terus?
Bebe: yaudah si. bisa mikir sendiri
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s