Secangkir Teh

Posted: 22 December 2011 in Uncategorized

Bogor, Malam Sabtu, 22.10 WIB

“Assalaamualaaiiikuuuum!”

kuketuk pintu rumah seperti yang biasa kulakukan dulu saat pulang sekolah. Ketukan dengan irama buatanku sendiri. Tak pernah berubah walau sekarang aku sudah kuliah tingkat tiga di fakultas kedokteran gigi sebuah perguruan tinggi negeri di Bandung. Hatiku selalu bahagia setiap sampai di rumah. Sejak berkuliah di bandung, pulang ke bogor tak bisa lagi kulakukan sesuka hati. Tugas kuliah yang menumpuk dan amanah kampus yang kupilih sendiri mulai mengisi waktu luang yang kumiliki.

Pintu terbuka, seraut wajah lelah tersenyum menyambut kehadiranku. Aku tersenyum lebar.

“Ibuuuuu! Hari ini masak apaa? Lapeerr..” penuh semangat aku menghambur masuk ke rumah. Kucium tangan ibu buru-buru. Kemudian kuletakkan barang-barang bawaan seenaknya di ruang tengah. Langsung menuju meja makan. Secangkir teh panas ada di sana, langsung kuhabiskan setengahnya.

Ibu mengikutiku duduk di meja makan, tak lupa memarahiku karena belum mencuci kaki dan tangan.

“Bebe! Ada berapa kuman bakteri yang nempel di baju kamu, karbon monoksida dari Bandung di bawa-bawa ke meja makan! Calon dokter gigi masa’ nggak cuci tangan.. bla.. bla.. bla..”

Aku nyengir, iya aku tau buu, dalam hati aku menjawab omelan panjang ibu. Aku hanya memancing perhatian ibu, sudah lama sekali rasanya tidak ada perhatian sebesar ini untukku.

Aku segera berlari menghindari serangan ceramah ibu, berganti pakaian, mencuci tangan dan kaki, sekejap kemudian sudah duduk di hadapan ibu, dengan piring berisi nasi hangat mengepul menambah selera makanku yang setiap detik semakin bertambah. Sambil makan aku mulai bercerita segala pengalaman seruku di kampus, menceritakan teman-teman yang menyenangkan, meski aku yakin ibu tak akan penah ingat nama-namanya; membicarakan kekesalanku pada beberapa kebijakan yang tak pernah aku tumpahkan pada siapapun, mengadukan tugas-tugas translate yang selalu bertambah setiap hari, ah semuanya aku ceritakan. Aku berisik sekali. Ibu mengangguk-angguk mendengarkan, kadang ikut terbawa emosi ceritaku. Dan juga tak ketinggalan memarahiku, ya, memang selalu saja ada yang bisa menyebabkan aku dimarahi oleh ibu.

“Bebe, mandi!”

Ups jam berapa sekarang? Sudah jam sebelas malam dan kita berdua masih asik di meja makan. Padahal piringku sudah bersih sejak lima belas menit yang lalu.

“Ibu belom ngantuk?” aku mulai sadar, ibu seharusnya sudah tidur dari jam delapan tadi.

“Belum, ibu mau nonton berita $xj@jh#jk?gk* udah ibu tungguin daritadi acaranya.”

Aku tak pernah peduli berita apa yang ibu tonton, terlalu berat untuk otakku yang sudah kepenuhan dengan bahan kuliah yang bahkan tidak semuanya aku kuasai. Yang penting ibu belum tidur. Asiik !

“Tungguin aku mandi! Jangan tidur dulu yaa” segera aku berlari ke arah kamar mandi, mengambil handuk bersih yang sudah ibu siapkan daritadi. Kucium bau handuk itu, hmmm selalu bau ibu. Masuk kamar mandi, kucek isi bak mandi, airnya masih penuh. Kucelupkan tanganku ke dalam air bak mandi, hangat. Aku segera mandi. Aku senang sekali bisa pulang ke rumah.

Ibu masih menonton televisi saat aku selesai mandi, selanjutnya aku shalat dan bersiap untuk tidur. Kucium tangan ibu sebelum tidur, kebiasaanku sejak kecil hingga sebelum berkuliah. Kumatikan lampu kamar. Beberapa menit kemudian suara televisi dimatikan terdengar. Aku belum tertidur pulas tentu saja. Sebuah langkah kaki mendekat ke kamarku, aku buru-buru memeluk guling dan memejamkan mata. Sepasang tangan terasa olehku  merapikan selimut dan menutupi tubuhku hinga ke leher. Pintu kamar tertutup kembali. Ibu, sudah berapa acara televisi yang kau tonton selama menunggu kepulanganku tadi?

 ***

Ahad pagi ini aku sibuk sekali di depan laptop, dikelilingi adik-adikku. Sejak sabtu kemarin aku asik membuat video-video menggunakan sebuah program yang mampu membuat kumpulan foto-foto keluarga kami menjadi sebuah video. Siang ini aku harus pulang kembali ke Bandung, jadi video ini harus aku selesaikan siang ini juga. Hampir pukul dua belas siang aku masih serius melakukan penyelesaian video tersebut. Sudah berapa kali ibu bolak balik membawa sapu lidi ke ruanganku mengancam akan memukulku degan benda itu karena belum juga mandi pagi. Aku berteriak-teriak minta ampun. Dengan alasan ‘sebentar lagi’ ibu pergi melanjutkan kesibukannya di dapur.

Selesai! Video ini pasti semua orang rumah akan suka sekali, aku membatin dalam hati. Sudah kukerjakan dengan susah payah sampai lupa makan dan mandi, segera kuperlihatkan pada adik-adikku yang sudah bosan menungguku sejak kemarin siang mengerjakan video keluarga ini. Setelah semua menonton dan berteriak kegirangan saat foto mereka muncul dalam video singkat itu, kini giliran ibu yang kupanggil untuk menontonnya sendiri.

Kuberikan kursiku untuk ibu agar ibu nyaman menontonnya. Ibu menonton dalam diam. Hanya matanya saja yang sedikit berkaca-kaca. Aku yakin sekali ibu suka sekali dengan video ini. Tapi hingga detik-detik akhir video selesai ibu tak kunjung mengatakan pujian apapun pada karyaku itu. Hingga akhirnya video selesai dan ibu tetap tidak memberikan komentar sama sekali. Dia lantas berdiri dan kembali ke dapur. Aku tidak mengerti mengapa ibu seperti itu, aku hanya teringat aku harus segera bersiap-siap kembali ke Bandung. Besok ada kuliah pagi.

Video ini berawal dengan tulisan: “Hasim Family. 1986 – 2009. We are happy family”. Tahun 1986 adalah tahun pernikahan ibu dan bapak. Dan tahun 2009, adalah tahun ini.

—————————————————————————————————————————-

Bogor, 2 bulan kemudian. 11.25 WIB

Malam Sabtu ini aku pulang lebih malam dari biasanya. Sejak memasuki daerah pasar rebo hingga memasuki Bogor tadi macetnya bukan main. Aku sudah tidur, terbangun, tidur, dan terbangun lagi. Entah sudah mimpi apa saja aku di perjalanan. Ah tak apa, yang penting sebentar lagi aku sampai rumah, aku bahagia sekali.

“Assalaamualaaiiikuuuum!”

kuketuk pintu rumah seperti yang biasa kulakukan dulu saat pulang sekolah. Ketukan dengan irama buatanku sendiri. Tak pernah berubah walau sekarang aku sudah kuliah tingkat tiga di fakultas kedokteran gigi sebuah perguruan tinggi negeri di Bandung. Hatiku selalu bahagia setiap sampai di rumah, sejak berkuliah di bandung, pulang ke bogor tak bisa lagi kulakukan sesuka hati. Tugas kuliah yang menumpuk dan amanah kampus yang kupilih sendiri mulai mengisi waktu luang yang kumiliki.

Aku menunggu sesaat. Akhirnya pintu terbuka, seraut wajah mengantuk muncul dari balik pintu, adikku. Sejenak menatapku kemudian melangkah ke kamarnya kembali tidur. Kukunci sendiri pintu yang barusan terbuka untukku. Sepi. Ah ya, sudah tengah malam, tentu saja semua sudah tidur. Aku lapar. Kutatap meja makan. Tak ada secangkir teh. Dadaku sesak. Kubuka tutup saji di meja makan, tinggal sambal. Semua makanan sudah dibereskan di dapur dan dimasukkan ke dalam kulkas. Nafsu makanku hilang dalam sekejap. Kerongkonganku tercekat. Aku beranjak menuju kamar mandi, mungkin mandi bisa menghilangkan segala lelah sepanjang perjalanan panjang Bandung – Bogor tadi. Kuambil handuk dari lemari, kucium handuknya seperti biasa. Kutarik nafas sedikit lega, masih bau ini, bau kamper dalam lemari, sama seperti bau baju ibu, kurang bau keringatnya saja.

Malam kian larut, segera kumasuki kamar mandi, kukunci dari dalam. Baknya kosong. Kunyalakan air panas. Sambil menunggu bak terisi penuh kutatap wajahku di cermin. Kubuang desah nafas panjang. Hampir genap satu bulan wajah ini tersenyum dengan terpaksa, menahan buncahan tangis dengan tawa, menutupi teriakan hati dengan keceriaan yang kubuat dengan susah payah. Aku tidak bisa menahannya lagi, kumaksimalkan curah air dari keran, kubiarkan suara berisik akibat air yang mengalir deras. Rasanya kantung air di pelupuk mataku sudah mau pecah. Dan bulir-bulir hangat itu pun mengalir sudah. Terjatuh sendiri ke pipiku, terus bergulir hingga ke leher, membasahi bajuku. Kutahan suaraku agar tak membangunkan adikku yang pulas tertidur di kamar sebelah. Tubuhku berguncang menahan tangis tertahan. Ingin berteriak rasanya. Air di bak sudah penuh satu menit yang lalu dan mulai membanjiri lantai kamar mandi. Potongan-potongan gambar memori itu berkelebatan. Kunyalakan shower sekencang-kencangnya. Kupeluk erat handuk berbau ibu, kucium sekuat tenaga. Waktu mandi bertambah satu jam, malam itu akhirnya kuizinkan diriku melakukannya, menangis sejadi-jadinya tanpa suara. Secangkir teh itu tidak ada lagi.

***

Tak ada yang membenciku di rumah ini, aku tau semua menyayangiku, juga selalu merindukanku untuk segera pulang ke rumah. Mungkin mereka hanya tidak tau saja, setiap aku sampai di rumah, lelah dari perjalanan malam yang panjang itu, selalu ada secangkir teh panas di meja makan. Kemudian juga ada makanan lengkap yang sudah dihangatkan, handuk bersih bau ibu menggantung di kursi, ibu akan menemaniku yang lapar setengah mati makan dengan lahapnya sambil mendengarkan rangkuman ceritaku yang tak beraturan. Lalu, setelah makan aku akan mandi dengan air hangat yang sudah ibu siapkan. Hanya ibu yang selalu terjaga di setiap malam kepulanganku, setia menungguku meski sudah ingin tidur sejak ba’da isya tadi.

Aku sadar, hingga waktu-waktu ke depan dan selamanya, tidak akan ada lagi yang bisa melakukannya sesempurna ibu untukku. Kubiarkan itu semua menjadi kenangan yang indah dalam hidupku. Jika pun Tuhan akan mengambil ingatan itu seiring bertambah usiaku, tak apa. Tidak kusesali sama sekali ketidakhadiran ibu di episode kepulangan pertamaku sejak ibu meninggalkan rumah hangat kami. Hanya saja aku butuh sedikit waktu untuk membiasakan diri mulai saat ini. Karena ternyata rasanya pedih sekali. Dan melihat meja makan tadi tanpa secangkir teh itu, rasanya, sungguh sungguh menyedihkan ..

Kuulang sekali lagi video itu, kulihat senyum ibu disana.

Ibu, aku rindu, rindu sekali.

Bandung,

5 Desember 2011, tepat 31 bulan sejak hari itu.

ibu, selamat hari ibu : )

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s