Tuan Makan Senjata

Posted: 13 August 2011 in Uncategorized

EH! TONGGOO!

Kamu mau baca ini?

Hmm,, ada sedikit permohonan, sebentar yaa.

nama kamu siapa?

Oke, sekarang ganti nama kamu sama: PUJI . Sebentar kok. Selama baca postingan ini aja 😉

Di suatu sore yang cerah di salah satu sudut kota bandung, PUJI (ini kamu loh, ini kamu ya, jangan lupa, selanjutnya aku tulis PUJI pake huruf kecil, tapi kamu jangan lupa kalo itu tuh ceritanya kamu loh ya)

Bebe: cukup kali shal, plis lah jangan berlebihan banget gitu, kasian yang baca
Shali: *elus-elus punggung bebe* iye daah, diulangin kalo gitu.. :p

*

Ramadhan sore yang cerah di salah satu sudut kota Bandung, Puji melangkahkan kaki keluar dari kosan. Sore ini, sambil ngabuburit Puji berencana untuk membeli beberapa helai jilbab lucu nan cantik *uh yeah*, kado ulang tahun untuk adiknya di rumah. Puji memang lebih senang berjalan-jalan sendirian, menikmati suara perutnya sendiri –eh kayaknya ga gitu deh- menikmati sisa usianya –kayaknya ga itu juga deh- menikmati suasana senja yang indah di kota kembang –oke ini lebih terdengar menyenangkan, bungkus-

Sambil berjalan santai memikirkan tempat jilbab mana dahulu yang akan ditandanginya –ngerasa ga ditandangi sama ditandatangani ituu, mirip yah. Hahaha- Puji melihat sebuah toko jilbab yang baru dibuka, bangunannya masih baru dan bersih, dari luar terlihat beragam jilbab dan baju muslim tertata rapih dan cantik. Jadi, alasan apa yang membuat Puji untuk tidak masuk ke dalamnya? Tidak ada. Jadi Puji pun melangkah masuk ke dalam toko jilbab ini.

Puji mendorong pintu yang bertuliskan ‘dorong’. Matanya langsung mengarah pada jilbab bordir unyu. Sekilas dilihatnya mbak” penjaga toko –selanjutnya dipanggil mbak Komi- sedang ngobrol bersama rekan kerjanya. Tak menghiraukan kehadiran Puji di toko itu, sedikitpun. Puji melihat satu persatu dari barang di toko itu, dari ujung ke ujung, meraba kain bahan setiap kerudung, memejamkan mata, meresapi, membayangkan jilbab tersebut jika dipakai oleh adiknya. Saat membuka mata mbak Komi sudah ada di belakang Puji, membuntuti apa yang dilakukan Puji, daritadi. Mbak Komi terus mengikuti perjalanan pencarian jilbab Puji, dengan ekspresi datar daan sedikit, hmm sinis.

Puji merasa tidak enak, maka basa basi dia bertanya dengan sedikit takut

Puji: ”mbak, yang ini harganya berapa ya?”

Komi: “itu ada di situ nempel harganya”

Puji: *ih jutek banget sii, nyebelin!* -mood terjun bebas- coba lagi deh. “yang ini bentuknya persegi atau persegi panjang mbak? *ikutan jutek nanyanya*

Komi: ini persegi panjang semua, kalo mau yang kotak disana

Puji: ha? Dimana mbak? –berjalan tanpa arah-

Komi: -malah pergi –

Puji: mbak? -aaah sebeeel!-

Komi: -malah ngobrol-

Puji: -gajadi beli disini ah!-

Akhirnya karena sebel bin kesel, Puji mendorong pintu yang bertuliskan ‘dorong’ dan pergi dari toko tersebut tanpa pamit atau terimakasih. Di perjalanan dia terus mengingat jilbab unyu yang dilihatnya tadi, bagus dan murah. Tapi bete! Dalam lubuk hatinya: gimana sih, masa ada penjaga toko ga ngelayanin pengunjung dengan baik, hih ,sapa kek, senyum kek minimal, mana bisa laku tu toko, ditanya aja jawabnya ga enak banget. Ga sudi ah beli disitu. Huh. Begitu kira-kira teriakan hati Puji. Sampai adzan maghrib berkumandang, Puji belum mendapatkan jilbab yang cocok. Dan sampai tarawih pun, Puji masih terbayang jilbab unyu di toko mbak Komi tadi sore. Ooohh, poor you Puji :p

**

Puji mendorong pintu yang bertuliskan ‘dorong’. Matanya langsung mengarah pada jilbab bordir unyu. Sekilas dilihatnya mbak” penjaga toko –selanjutnya dipanggil mbak Komi- sedang ngobrol bersama rekan kerjanya. Tak menghiraukan kehadiran Puji di toko itu, sedikitpun.

Karena merasa tak dianggap keberadaannya, Puji menghampiri mbak Komi, dan menyapanya

Puji: assalamualaikum 🙂

Komi: wa’alaikumsalam ‘-’ –senyum segaris-

Puji: mbak, aku mau liat” dulu ya 🙂

Komi: oh iya, silahkan –senyum melengkung-

Puji: mbak, maaf ganggu, kalo yang ini harganya berapa ya? Kok ga ada labelnya? 🙂 -senyum teruuus, pantang manyun-

Komi: oh itu ada kok di bagian belakangnya 🙂 -ikutan senyum-

Puji: oh ya ampuun, maaf ya mbak, aku ga liaat 😀

Komi: hehee

Puji: eh mbak, yg ini bentuknya persegi panjang ya? Kalo yang bahannya sejenis, tapi bentuknya kotak dimana ya mbak?

Komi: iya mbak, yg sebelah sini persegi panjang, kalo mau yang kotak tuh di sebelah sana

Puji: oh okee, makasii mbaak 😀

Komi: sama-samaa, buat lebaran ya mbak?

Puji: nggak kok, buat hadiah ulang tahun adik saya 🙂

Komi: ooh 🙂

Beberapa saat kemudian sambil bercengkrama bersama mbak Komi yang ternyata lagi menstruasi hari pertama *hahahaa*, Puji menemukan jilbab yang cocok, untuk adiknya, dan untuknya, hihii :p

Di Kasir, Puji mendapatkan kejutan, ternyata dia adalah pengunjung ke 50 di toko ini, dan mendapatkan 1 free jilbab unyu. Waaaa senang sekali yaa.

Puji pun keluar dari toko dengan hati berbunga, tak lupa pamitan sama mbak Komi

“makasi banyak ya mbaak, selamat berbukaa puasaa :)”

-eh kan mbak Komi lagi haid yah- hahahhaaa 😀

Happy Puji! 😀

____________________________________________________________________________

Yeay, I think you get the point, right?

Pada setiap scene kehidupan kita, banyak hal” menyebalkan terjadi. Dari hanya sekedar seorang mbak Komi yang terkesan jutek sampai ga ikut wisuda bulan Agustus 2011 kemarin (hoaaaaa T.T). Sebenarnya kamu bebas saja menentukan pilihan, mau mencak” karena mood dirusak mbak komi yang jutek, ga bersahabat, dan sinis.Tapi saya juga mau berbagi saja, ternyata dengan merubah sikap kita terhadap suatu masalah, jadinya happy loh 😉

Kita bahas kasus satu, Puji sebel sama mbak Komi, tapi dia nggak berusaha memperbaiki keadaan. Dalam lubuk hatinya: gimana sih, masa ada penjaga toko ga ngelayanin pengunjung dengan baik, hih, sapa kek, senyum kek minimal, mana bisa laku tu toko, ditanya aja jawabnya ga enak banget. Dan akhirnya dia pergi dan ga mendapatkan apa yang diinginkan selamanya.

Yeaah, kalo masalah laku ga laku sih masalah dia yah, tapi kan masalah kamu bukan ituu.. tapi apa cobaaa? Nyari jilbab unyu buat kado bukan ya tadii? jadi dengan perubahan penyikapan dari diri kita sendiri cobalah sedikit ‘paksakan’ diri kita untuk melakukan apa yang ingin kita dapatkan.

Langsung latihan ya. Tadi puji pengen mbaknya gimana? Kita copas..

Dalam lubuk hatinya: gimana sih, masa ada penjaga toko ga ngelayanin pengunjung dengan baik, hih ,sapa kek, senyum kek minimal, mana bisa laku tu toko, ditanya aja jawabnya ga enak banget.

Ada tiga hal sederhana yang puji inginkan dari pelayanan mbak komi, yaitu, disapa, disenyumin, dan pertanyaan” puji dijawab dengan baik-baik.

Okey, jadi kenapa ga Puji duluan aja yang nyapa, yang senyum, dan bertanya dengan baik baik? Coba deh ‘harusnya kan dia’ diganti jadi ‘harusnya saya’. Mau dapet senyuman? Senyum duluan dong. Dan ga perlu diulang ya berlipat kebahagiaan yang didapatkan puji dari toko jilbab itu, hanya dengan sedikit usaha merubah sikap terhadap masalah dengan senyum duluan, nyapa duluan. Be positive friends 😉

Jadi tuan, senjatanya jangan sampe makan tuan seperti Puji yang akhirnya ga dapet apa”, tapi coba senjatanya tembakin ke diri sendiri dulu, biar kayak Puji yang akhirnya dapet 1 jilbab unyu gratiis 😉

Karena sapaan akan menghasilkan sapaan, senyuman akan dibalas senyuman.

*mau punya skripsi? Buat buat! semangat!! mau dikasi selamat wisuda shal? Selamatin orang dulu dooong :p* hihiii

Yang namanya usaha, pasti ada hasilnya . Percaya! Maka berubahlah 😀

hyyaaa, jangan tidur-tiduran lagii, SEKARANG SEKARAANG !! hahahaaa ^^/

Advertisements
Comments
  1. ditjeam says:

    heey kenapa tokohnya nama kucing semuaa ? -,-

  2. mahirahnia says:

    kereeennn 🙂 *ngerasadijewer

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s