Hari Terburuk Shafiyah

Posted: 6 December 2009 in Uncategorized

Hari ini adalah hari dimana shafiyah *selanjutnya akan disebut sofie* menyambut pagi harinya dengan sebuah batuk, yang selalu dibatukkannya hampir sepanjang hari dalam satu minggu ini. Dan hari ini adalah hari dimana aku baru saja tiba di rumah tadi malam. Hari ini pun aku menemukan pekerjaan streptococcus mutans di gigi 34 (geraham bawah kiri) sofie semakin oke saja, karena lubang yang dibuatnya telah bertambah besar. Kemarin adalah hari dimana aku mendapatkan laporan bahwa gigi 71 dan 81 telah mengalami mobility, dan dibelakang gigi tersebut telah tumbuh dengan subur gigi permanennya (31 dan 41). Kemarin pun aku mengumpulkan beberapa fakta bahwa akhir-akhir ini sofie semakin mengurus dan tak bergairah menjalani hidupnya. Dan satu tambahan lagi: sofie tidak mau ke dokter gigi tanpa kakak shaliii!

Betapa jika kau menghubungkan semua data-data di atas kesimpulannya adalah : hari ini aku dan sofie akan pergi ke dokter anak dan ke dokter gigi sekaligus. Karena besok aku harus kembali ke planet pendidikan jatinangor. Tidak ada waktu lagi saudaraku 😉

Yeah.. dengan berbagai rayuan panjang yang tak perlu diceritakan akhirnya kami sampai di loket pendaftaran sebuah rumah sakit. Kudaftarkan saja nama sofie sebagai pasien di poli gigi dan poli anak. Padahal jarak kedua poli tersebut cukup jauh dan antriannya dimulai bersamaan, namun karena melihat banyaknya pasien di poli anak, maka marilah kita beranjak ke poli gigi terlebih dahulu saja. Yuuk marree..

Ini dia poli gigi dengan suara-suara aneh bagi sofie yang dihasilkan oleh sang dental unit. Penantian di poli gigi kami isi dengan memfoto gigi sofi yang mengalami kelainan itu menggunakan hp. Lalu menceritakan segala resiko yang akan didapatkannya jika tidak segera ke dokter gigi, dan menjelaskan betapa dokter gigi sangat baik sekaleee.. hehehe. Hingga akhirnya nama sofie dipanggil, bersamaku sofie masuk ke dalam poli gigi. Dokter giginya ramah dan baik pada sofie, membuat sofie dengan sangat pecaya diri memanjat naik ke dental chair dan berbaring disana dengan nyaman, membuka mulut lebar-lebar dengan yakin ketika dokter gigi yang baik hati akan memasukkan contra angle berisi bor untuk meggali gigi gerahamnya yang berlubang. Setelah posisi bor telah menyentuh gigi sofie, barulah sang dokter gigi menyalakan mesinnya dan terbongkarlah lubang gigi sofie yang ternyata telah menjadi abses karena mengeluarkan pus dan darah ketika dibor. Keterkejutan sofie tak sempat membuatnya mengeluarkan air mata karena begitu cepatnya dokter gigi melakukan itu semua. Hanya merubah ekspresinya menjadi sedikit merengut dan mengeluarkan sedikit erangan kemudian tenang lagi setelah berkumur.

Tantangan selanjutnya adalah mencabut 2 gigi sofie yang telah goyang. Setelah mengoleskan topical menggunakan kapas ke 2 gigi tersebut sehingga memberikan rasa dingin, sang dokter gigi dengan alasan ingin mengambil kapas yang dia letakkan di gigi tersebut menggunakan tang rahang bawah segera mencabut kedua gigi tersebut. Begitu cepat, begitu dekat, begitu nyata. Pencabutan selesai dan sofie tidak menangis sama sekali. Hanya saja ia terdiam cukup lama.

Kakak shali: “yeaa sofie hebat! Berani ke dokter gigi! Yeyeye! Nanti kita beli eskrim yaaah. Hehehe”
Sofie: *diem aja mode ON
Kakak shali: “sof, nanti kamu teken-teken aja ya gigi yang udah tumbuh pake lidah,, biar giginya bisa maju kayak gigi yang lain.. oke2!”
Sofie: *angguk-angguk diem aja mode ON
Kakak shali: “eh sof, jangan nyebelin gitu deh,, jawab doong. Ga sakit kan ke dokter gigi? Ntar kapan-kapan kita ke dokter gigi lagi yaah” ;D
Sofie: …. …. Sakit kakak shaliiii…!! Sakiiiit… *tereak mode ON
Kakak shali: .. o o o h .. hohoho. Ke poli anak aja yook

Poli anak cukup berisik karena tangisan para balita. Betapa mereka membuat sofie juga takut untuk masuk. Dengan paksaan tanpa rayuan lagi aku menarik tangan sofie ke ruang tunggu poli anak. Penantian dilakukan sambil melihat 2 gigi yang baru saja dicabut dan membahas gambar yang diberikan oleh dokter gigi yang baik hati tadi. Ketika nama sofie dipanggil, ia sedikit trauma sehingga tidak lagi memanjat kasur pemeriksaan anak dengan percaya diri. Padahal yang dilakukan dokter anak hanya memreriksa suhu badan dan detak jantungnya. Selain itu hanya menanyakan berbagai hal yang tak perlu dijawabnya sendiri. Namun hal ini yang menyebabkan hari ini akan semakin buruk bagi sofie.

Dokter anak memberikan sofie surat rujukan ke instalasi radiologi untuk foto ronsen thorax dan lab untuk pemeriksaa darah. Aku sangat mengetahui apa yang akan dilakukan perawat di lab pemeriksaan darah. Lengan sofie akan disuntik sedikit lebih lama dari pada saat vaksinasi cacar air untuk pengambilan sample darah dan dengan jarum suntik yang lebih besar. Namun aku tidak menceritakan apapun tentang itu saat kami menunggu panggilan di depan lab. Dan akhirnya kali ini sofie dengan sukses menangis tertahan saat perawat mulai menusukkan jarumnya.. maaf ya sofiekuu.. heheeeu

Air matanya tak kunjung berhenti mengalir walaupun kini kita sudah mendekati instalasi radiologi. Aku menceritakan disini sofie akan difoto. Tanpa keterangan tambahan bahwa ia akan difoto tanpa busana dalam ruangan radiasi itu. Ketika masuk tangisannya sudah reda. Petugas radiologi pun menyuruh sofie membuka pakaiannya, dan karena sofie adalah keturunan anak baik-baik, tentu saja menurutnya membuka baju untuk difoto masuk ke dalam kategori perbuatan tidak baik. Dengan berbagai penjelasan, bujukan dan rayuan pulau kelapa akhirnya sofie mau melakukan permintaan petugas radiologi.

Alhamdulillah akhirnya rangkaian pemeriksaan selesai dilakukan. Sebelum pulang kami berjalan-jalan terlebih dahulu ke Botani Square untuk menghibur segala kesedihan sofie hari ini dan membeli obat batuk untuknya. Kami juga membeli permen lucu berbentuk gigi berwarna warni dan rambut nenek sihir (ini makanan yang sulit dijelaskan, yang pasti makanan ini merusak gigi).

Sepanjang perjalanan pulang sofie lebih sering terdiam sambil mengelus-ngelus lengannya yang merupakan TKP pengambilan darah. Sampai di rumah dan berganti pakaian ia langsung mncari kakaknya obin, dan menceritakan segalanya dengan ceria.

“bin,bin, tadi aku berani loh ke dokter gigi! gigiku dicabut nih duaa.. blablabla.. blabliblublebo.. syalalalala …”

Eeeh cappe deeeh.. dasar anak kecil. Pamer aja sana!

Advertisements
Comments
  1. mimi says:

    uwow… love thiss

  2. achiisurachii says:

    ahhh sofieeeeeeeeeee… mau ketemuuu! nanti aku ajarkan tentang sesuatu yang BEGITU CEPAT, BEGITU DEKAT. BEGITU NYATA! *eh bayar royalti buuu!* ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s