Uiiiiiiiiiiihhh…!!!

Posted: 27 July 2009 in Uncategorized

Aku tidak bisa berbahasa sunda. Banyak orang tidak percaya karena aku tinggal di kota bogor yang menggunakan bahasa tersebut dalam kesehariannya. Masalahnya bukan karena aku yang tidak mau belajar dan membiasakan. Di rumahku bahasa sunda setetes pun tidak pernah digunakan, karena memang keluarga kami adalah imigran yang terdampar di salah satu sudut kota bogor. Bahkan orangtuakupun tidak ada yang bisa, aku bisa tertawa terguling-guling saat mereka harus berbicara dengan bahasa tersebut pada beberapa tetangga, maksa banget! semua bahasa Indonesia mereka tambahkan imbuhan eun sehingga menyerupai bahasa sunda! Kyakyakyakyakyakyaaa…

Aku lebih didorong untuk bisa berbahasa jawa, bahasa nenek moyang kami (siapa nenek moyang??). meskipun sampai sekarang juga sebenarnya aku belum bisa berbahasa jawa, yang penting bisa bahasa indonesialaah… udah deeeh

Pelajaran pertamaku tentang bahasa sunda terjadi saat aku kelas 6 SD (aku angkatan ke3 di SDku, sehingga pelajaran b.sunda saat itu baru dimasukkan dalam kurikulum), dan saat ujian bahasa sunda dengan suksesnya aku dibingungkan karena begitu banyak kata yang mengandung kecap, ujian macam apa ini?? Kenapa banyak kecapnya??!!! Perasaan sebelum ujian seingat aku bahan yang diujikan bukan tentang masakan ataupun makanan. Seusai ujian aku langsung menumpahkan pertanyaan tentang kecap tersebut pada salah satu teman cerdasku, dan ternyata kecap dalam bahasa sunda berarti kata . . oon terasa hidupku . .

Selanjutnya saat SMP, ujian pertama bahasa sundaku bernilai 3,4. Saat aku memberitahukan nilai itu pada orangtuaku tidak ada nasehat apalagi seruan marah. Hanya pemahaman, kita saling memaklumi kekurangan masing-masing. Pengalaman yang paling aku benci ketika belajar bahasa sunda di SMP adalah saat aku harus membuat karangan bahasa sunda sepanjang 2 halaman folio penuh. Maka siasat orangtuakupun tertular padaku saat itu, masukkan saja semua kata bahasa Indonesia dan tambahkan akhiran eun. Selesaikan, kumpulkan, tinggalkan, dan lupakan.. kebodohan semakin terasa untuk mata pelajaran yang satu ini

Saat SMA tidak ada pelajaran bahasa daerah itu, senangnya tiada terkiraa. Hahahaaa… namun kehidupan sehari2 membuatku mau tidak mau mengenal beberapa kosakata bahasa sunda, dan aku sempat memiliki keinginan untuk bisa menguasai bahasa tersebut saat kuliah karena pengalaman memberikan penyuluhan pada masyarakat desa terpencil yang sia2 karena aku berbahasa Indonesia dengan fasih, dan masyarakat tersebut juga sangat fasih.. berbahasa sunda.. keinginan tersebut dengan serius aku jalani, aku meminta salah seorang temanku untuk mengajariku tentang pembicaraan umum menggunakan bahasa sunda. Lalu beberapa hari kemudian aku menggunakan kata2 tersebut saat bertemu teman-temanku, dan semua bilang: “tadi ngomong apa shal? Bahasa sunda ya?? Iiih aneh banget sih kalo kamu yang ngomong.. udah ga usah ngomong gitu lagi ya..” pupus sudah..

Dan terjadilah peristiwa di angkot yang membuatku sport jantung selama perjalanan. Aku masih SMP. Pulang sekolah menggunakan angkot, aku suka duduk di pojok sambil melihat pemandangan dari kaca belakang. Di seberangku duduk manis gadis kecil di pangkuan seorang ayah, dia kuanggap tetap manis asalkan tidak melakukan yang dia akhirnya lakukan dihadapanku sehingga kemanisan itu aku cabut kembali: dia mengerutkan wajah, menahan tangis, mengeluarkan ekspresi ketidaknyamanan pada dirinya yang menimbulkan banyak prasangka dalam pikiranku, dan satu lagi, dia terus mengatakan sebuah kata, yang akhirnya kuketahui adalah bahasa sunda, dia terus mengatakannya..

Gadis kecil yang kehilangan kemanisannya: “ayaaah, uiiiiih…”

Ayah terdiam membisu, belum menyadari anaknya berbicara, mungkin mendengar tapi tidak berfikir itu adalah sesuatu yang harus dijawab

Gadis kecil yang kehilangan kemanisannya: “ayaaah, uiiiiih…” (lebih keras)

Aku memasukan tiga huruf uih dalam otak dan mencari tau apakah aku pernah mempelajari kata itu di sekolah.. aku berfikir keras! Ah, akhirnya aku menyimpulkan sendiri dalam 2 pilihan jawaban, uih adalah pipis atau muntah. Yup tepat sekali, apalagi jika melihat ekspresi tak tertahankan gadis kecil tersebut.

Gadis kecil yang kehilangan kemanisannya: “uiiiiiiiiiiiiiih…. Uiiiiih…”

Oooooooooooh nooooooooo. Apa? Apa yang akan anak itu lakukan?? Jangan sampai dia muntah di hadapanku, aku tidak membawa plastic untuk kuberikan. Yang bisa kulakukan hanyalah berposisi siaga 1 sambil memundurkan posisi duduk, memastikan itu adalah titik terjauh yang bisa kuusahakan dari anak itu.

Ayah : “iya.. iyaa..”

Whaaat?? Si ayah Cuma bilang i.y.a.a.a ?! oooh, aku langsung berjanji dalam hati jika aku dewasa nanti, membawa anakku naik angkot dan dia ingin muntah, aku harus turun angkot dan sama sekali tidak membiarkan dia menahannya. Karena itu tidak enak sama sekali dan sungguh anakku pasti akan merasa malu jika akhirnya menyemprotkan muntahnya kedalam angkot dan seisinya.

Gadis kecil yang kehilangan kemanisannya: “ayaaaah….. uiiiiiiiiiiiiiih…. Uiiiiih…”

Ayah : “iyyaaa, ini sebentar lagii!”

Hwooooooooo.. ayah mulai menaikkan nada bicaranya, menyebalkan sekali pasti bagi si gadis kecil, aku tidak mau melihat mereka lagi, aku sibukkan mataku dengan melihat pemandangan di luar, sambil terus berdoa agar anak itu bisa bertahan dan turun secepatnya dari angkot iniii… tidak, aku tidak mau rok biruku terkena muntahan.. aku tidak rela sedikitpun, sedikit bau muntah akan menyebabkan aku juga muntah, itulah penyebab aku tidak nyaman dalam suasana di pojokan angkot siang ini. Kutelan ludah sekali lagi..

Dan yayayaaa. Yess. Aku turun duluan sayaaang. Hiahahaha. Aku langsung melesat melompat dari angkot dan berlari, berlari menyambut kebebasanku. Sampai di rumah yang damai dan langsung menghampiri bu juju, yang suka membantu di rumah kami.

Aku : bu jujuuuuuuuu

Bu Juju : iya neeng

Aku : bu juju jangan panggil aku neeng. Aku nggak sukaa..

Bu Juju : oh iya iya. Ada apa anak sholiih??

Aku : bu juju tau ga uih itu apa? Tadi di angkot ada anak kecil teriak2 ituuu teruus. Aku takut banget dia mau muntah kayaknya..

Bu Juju : uih? U-i-h ?

Aku : iya iya bener. Bu juju tau?

Bu Juju : ooh itu mah artinya pulang . .

Sesaat pembicaraan terhenti . .

Oooooooh cuma pengen pulaaaaaang. Biasa aja kali dek ekspresinya. Please banget yaa.. -_-

Advertisements
Comments
  1. thysa says:

    hahaha norak lo be.gamau dipanggil ‘neng’ tapi hepi dipanggil ‘anak sholih’ jijaayy haha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s