Pidato Singkat Sang Walikota Hujan

Posted: 27 July 2009 in Uncategorized

Assalamualikum wr. wb.

Selamat pagi bapak-bapak ibu-ibu. Salam sejahtera untuk kita semua. Saya sangat bahagia sekali berada di antara masyarakat Hujan yang ehm.. sejak saya menjabat sebagai walikota semakin terlihat sejahtera saja. Bukan begitu? Yaaah saya semakin senang karena masyarakat Hujan sendiri saya perhatikan makin tinggi tingkat toleransi terhadap sesama dan menjadi pribadi-pribadi yang makin taat pada peraturan agama untuk selalu sabar dan bersyukur atas apa yang kita dapatkan.

Sebenarnya system kepemimpinan yang saya pegang memang sudah saya perkirakan akan membentuk masyarakat Hujan yang sabar. Sabar menanti kemacetan di jalanan, terutama di pagi hari, karena pasar yang melebihi batas tepi jalan, angkot-angkot yang membuncah ngetem dimana-mana, semua itu tidak lain dan tidak bukan untuk melatih kesabaran kita. Apakah dengan ujian kecil seperti ini kita akan cukup sabar? Apakah mobil yang bapak ibu naiki cukup membuat bersyukur daripada keadaan penjual sayur di tepi jalan yang bahkan kendaraan pun tak punya. Karena Tuhan bersama orang yang sabar bapak2 ibu2..

Jalanan yang rusak pun sudah saya perkirakan. Oleh karena itu tidak ada perbaikan yang dilakukan. Karena apa bapak2 ibu2? Karena setelah diperbaiki pun akan segera rusak lagi cepat atau lambat. Apalagi daerah kita adalah daerah rawan hujan, yang sangat berkontribusi dalam kerusakan jalan. Maka saya biarkan jalanan berlubang, bahkan menjadi becek jika musim hujan tiba, agar semua bisa merasakan, bagaimana penderitaan petani di sawah yang selalu bergaul bersama lumpur, demi nasi yang bapak ibu makan setiap hari. Apakah kita pernah merasakannya? belum bukan? Oleh karena itu, dengan jalan yang rusak tersebut kita dapat merasakan juga perjuangan para petani.

Untuk para pengguna fasilitas umum, maka berhati-hatilah. Karena pencopet ada dimana-mana. Pencopet juga manusia pak, bu, mereka juga butuh makan, menafkahi keluarganya. Oleh karena itu, jika bapak ibu pernah kehilangan sesuatu tak apalah sesekali. Karena dalam harta kita ada sebagian harta mereka juga bukan?

Lampu merah di persimpangan jalan akhir-akhir ini semakin banyak yang tidak berfungsi. Bapak ibu tau sendiri akhirnya banyak pemuda kita yang menjadi polisi cepek di sana. Jangan terus berprasangka bahwa merekalah yang merusak lampu merah tersebut, cobalah untuk melihat dari sisi yang lain. Pemuda-pemuda yang kreatif dan inovatif. Tetap optimis mencari uang, tidak pernah menyerah melawan pengangguran. Saat ini banyak pemuda yang tidak memiliki pekerjaan. Maka berilah mereka 500 rupiah saja, bahkan mungkin 1000 rupiah tidak terlalu berpengaruh bukan untuk kelanjutan keberlangsungan hidup kita? Maka ikhlaskanlah uang tersebut. Hargailah mereka yang mengamen, tidak mencopet, meskipun kadang suara mereka berganti2 nada dasar, hargailah sedikit usaha mereka!

Kita semua tahu saat ini hidup semakin susah. Maka saya harapkan masyarakat kota hujan bisa merasakan susah itu bersama sama. Tidak berbahagia di atas penderitaan orang lain. Dan kita semua pun berharap semoga suatu saat, kita bisa menikmati kebahagiaan bersama-sama pula. Sekian pidato singkat dari saya. Saya amat sangat menghargai ketulusan ibu bapak untuk hadir disini dan mengerti serta mau memahami kondisi yang terjadi saat ini.

Terimakasih yang sebesar-besarnya. Atas kesabaran dan pengorbanan ibu dan bapak selama ini.

Wassalamualaikum wr. wb.

*hasil menguping pembicaraan beberapa lelaki di sebuah mobil menuju suatu tempat dengan modifikasi sana sini tentu saja.. hahaha. Dipenjara ga ya kalo nulis beginian?? Iiih tatuuuut… :9

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s