Ketua Fraksi PKS Jazuli Juwaini menegaskan bahwa Fraksi PKS sangat konsen dan komitmen untuk memberantas kejahatan seksual. “Untuk itu kita butuh undang-undang yang tegas dan komprehensif yang melandaskan pada nilai-nilai Pancasila, agama, dan budaya bangsa bukan dengan peraturan yang ambigu dan dipersepsi kuat berangkat dari paham/ideologi liberal-sekuler yang sejatinya bertentangan dengan karakter dan jati diri bangsa Indonesia itu sendiri,” tegas Jazuli.

Adapun alasan mengapa Fraksi PKS menolak RUU Penghapusan Kekerasan Seksual (berikut perspektif solusi yang ditawarkan Fraksi PKS) adalah sebagai berikut:

*I. Definisi Kekerasan Seksual Dalam RUU*

RUU mendefinisikan kekerasan seksual pada Pasal 1 huruf a. sebagai: Setiap perbuatan *merendahkan, menghina, menyerang*, dan/atau perbuatan lainnya terhadap tubuh, *hasrat seksual* seseorang, dan/atau fungsi reproduksi, *secara paksa, bertentangan dengan kehendak seseorang*, yang menyebabkan seseorang itu tidak mampu memberikan persetujuan dalam keadaan bebas, karena *ketimpangan relasi kuasa dan/atau relasi gender*, yang berakibat atau dapat berakibat penderitaan atau kesengsaraan secara fisik, psikis, seksual, kerugian secara ekonomi, sosial, budaya, dan/atau politik.

=> Definisi ini telah dikritisi Fraksi PKS dengan alasan:
(1) tidak fokus, melebar ke permasalahan di luar tindak kejahatan seksual (ekses:
pernikahan, kontrasepsi, dan aborsi);
(2) tidak memberikan batasan mengenai istilah “merendahkan”, padahal kata tersebut
cenderung subyektif/relatif sehingga berpotensi disalahgunakan, dan tidak memperhitungkan resiko korban dapat kehilangan nyawanya oleh tindakan kejahatan seksual;
(3) memasukkan unsur “hasrat seksual” yang luas yang dapat berimplikasi pada sikap permisif
terhadap perilaku seksual yang menyimpang.
(4) menggunakan istilah “relasi kuasa” yang dapat disalah-pahami dengan “relasi suami-istri”, sehingga berpotensi menimbulkan polemik dalam kehidupan berumah-tangga.

Atas dasar itu, Fraksi PKS telah mengajukan usulan definisi menjadi sebagai berikut: *“Kejahatan Seksual adalah setiap perbuatan terhadap tubuh dan fungsi reproduksi, secara paksa, bertentangan dengan kehendak seseorang, yang menyebabkan seseorang tidak mampu memberikan persetujuan dalam
keadaan bebas, yang berakibat atau dapat berakibat penderitaan atau kesengsaraan secara fisik, psikis, seksual, bahkan kehilangan nyawa;”*

Merujuk definisi tersebut, Fraksi PKS telah mengusulkan penggunaan istilah Kejahatan Seksual untuk menggantikan istilah “kekerasan seksual” dengan alasan:
(1) menggambarkan unsur kesalahan dan derajat tindak pidana yang lebih tegas sehingga dapat mempermudah dalam perumusan delik dan pemenuhan unsur-unsur pidana dalam pembuktian.
(2) istilah kejahatan seksual juga sudah digunakan dalam peraturan lain seperti pada UU Perlindungan Anak.

Istilah “Kejahatan Seksual” lebih memenuhi kriteria “darurat kejahatan seksual” yang sedang terjadi di masyarakat, lebih tepat untuk digunakan dibandingkan dengan istilah “Kekerasan Seksual”, sehingga perlu untuk mengganti judul menjadi *RUU Penghapusan Kejahatan Seksual.*

*II. Lingkup Tindak Pidana Kekerasan Seksual*

Dengan penamaan RUU Kejahatan Seksual sebagaimana telah diusulkan Fraksi PKS, fokus RUU tidak melebar ke isu-isu di luar kejahatan seksual; fokus hanya pada tindak kejahatan seksual yaitu antara lain:
a. Pemerkosaan
b. Penyiksaan seksual
c. Penyimpangan perilaku seksual
d. Pelibatan anak dalam tindakan seksual
e. Inses

Pembatasan tersebut sekaligus memperjelas jenis tindak pidana dalam RUU sehingga tidak membuka tafsir bebas sebagaimana yang dikritik masyarakat luas saat ini. Diantara kritik masyarakat juga kritisi Fraksi PKS terhadap lingkup tindak pidana kekerasan seksual dalam RUU (Pasal 11, Ayat (2)):

a. pelecehan seksual
{didefinisikan pada Pasal 12 sebagai Kekerasan Seksual yang dilakukan dalam bentuk tindakan fisik atau non-fisik kepada orang lain, yang berhubungan dengan bagian tubuh seseorang dan *terkait hasrat seksual, sehingga mengakibatkan orang lain terintimidasi, terhina, direndahkan, atau dipermalukan.*}

=> Kritisi Fraksi PKS definisi tidak jelas dan bisa berekses pada tafsir sepihak dan digunakan untuk mengkriminalisasi kritik moral masyarakat atas perilaku menyimpang. (1) Bisa mengkriminalisasi misalnya kritik masyarakat thd perilaku menyimpang LGBT. (2) Mengkriminalisasi kritik terhadap gaya berpakaian muda-mudi bahkan seks di luar nikah yang sudah demikian parah datanya. Jangan hal-hal tsb sampai dikriminalisasi atas nama pelecehan seksual. Padahal sejatinya kritik tersebut justru menjaga moralitas generasi bangsa sesuai nilai-nilai Pancasila dan agama. Bahkan semestinya RUU mengatur dangan tegas larangan perilaku menyimpang seperti LGBT.

b. pemaksaan aborsi;
{didefinisikan pada Pasal 15 sebagai Kekerasan Seksual yang dilakukan dalam bentuk memaksa orang lain untuk melakukan aborsi dengan kekerasan, ancaman kekerasan, tipu muslihat, rangkaian kebohongan, penyalahgunaan kekuasaan, atau menggunakan kondisi seseorang yang tidak mampu memberikan persetujuan.}

=> Kritisi Fraksi PKS definisi ini jangan sampai dipahami bahwa aborsi menjadi boleh selama tidak ada unsur “memaksa orang lain”. Tingkat aborsi di luar nikah sangat tinggi, antara lain sebagai ekses perilaku seks bebas/seks di luar nikah. Untuk mencegah hal itu maka aturan pelarangan aborsi (kecuali alasan yang sah secara medis) harus diatur terlebih dahulu dalam RUU.

c. pemaksaan perkawinan;
{didefinisikan pada Pasal 17 sebagai Kekerasan Seksual yang dilakukan dalam bentuk menyalahgunakan kekuasaan dengan kekerasan, ancaman kekerasan, tipu muslihat, rangkaian kebohongan, atau tekanan psikis lainnya sehingga seseorang tidak dapat memberikan persetujuan yang sesungguhnya untuk melakukan perkawinan.}

=> Kritisi Fraksi PKS definisi ini bisa ditafsirkan sepihak terhadap kearifan dalam kehidupan keluarga masyarakat beradat/budaya timur (relasi orang tua dan anak) sehingga memungkinkan seorang anak mengkriminalisasi orang tuanya yang menurut persepsinya ‘memaksa’ menikah. Padahal bisa jadi permintaan/harapan orang tua itu demi kebaikan anaknya.

d. pemaksaan pelacuran;
{didefinisikan pada Pasal 18 sebagai Kekerasan Seksual yang dilakukan dalam bentuk kekerasan, ancaman kekerasan, rangkaian kebohongan, nama, identitas, atau martabat palsu, atau penyalahgunaan kepercayaan, melacurkan seseorang dengan maksud menguntungkan diri sendiri dan/atau orang lain.}

=> Kritisi Fraksi PKS definisi tindak pidana harus dilengkapi dg pengaturan bahwa pelacuran dan/atau perzinahan atas alasan apapun secara prinsip Pancasila dan Agama *dilarang* di republik ini. Sehingga secara otomatis pemaksaan pelacuran dan/atau perzinahan menjadi tegas terlarang.

e. perbudakan seksual;
{didefinisikan pada Pasal 19 sebagai Kekerasan Seksual yang dilakukan dalam bentuk membatasi ruang gerak atau mencabut kebebasan seseorang, dengan tujuan menempatkan orang tersebut melayani kebutuhan seksual dirinya sendiri atau orang lain dalam jangka waktu tertentu.}

=> Kritisi Fraksi PKS definisi harus diperjelas agar tidak merusak tatanan lembaga perkawinan yang memiliki aturan/norma tersendiri secara agama, terutama dalam hal kewajiban serta adab-adab hubungan seksual suami-istri yang sah.

Terlebih lagi, RUU menegaskan bahwa kekerasan seksual di atas adalah peristiwa dalam lingkup *relasi personal, rumah tangga, relasi kerja, publik, dan situasi khusus lainnya.* (Pasal 11).

Secara umum Fraksi PKS belum melihat dalam RUU perspektif yang melihat akar masalah dan penyelesaian masalah kekerasan seksual (atau kejahatan seksual, sebagaimana usul Fraksi PKS) dalam perspektif moral agama sejalan dengan nilai Pancasila khususnya sila pertama. Oleh karena itu, Fraksi PKS tegas berpandangan bahwa penting untuk menggunakan pendekatan ketaatan terhadap Agama sebagai perspektif dalam pencegahan kejahatan seksual.

Ketaatan terhadap ajaran Agama yang dianut dapat menimbulkan kesadaran hakiki seseorang untuk senantiasa berbuat baik dan menghindari perbuatan-perbuatan yang merendahkan martabat seseorang
karena dianggap sebagai perbuatan dosa. Hal ini sejalan pula dengan maksa filosofis Sila ke-2 Pancasila yang dijiwai oleh Sila ke-1 bahwa upaya-upaya untuk mewujudkan kemanusiaan yang adil dan beradab dengan menentang segala perbuatan keji, jahat, tercela yang tidak mencerminkan keberadaban sebagai manusia, haruslah dijiwai oleh nilai-nilai Ketuhanan
Yang Maha Esa.

Atas dasar itu, Fraksi PKS mengusulkan asas Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai asas pertama dan utama untuk dimasukan dalam Pasal 2 RUU tentang asas.

Bravo, Bébé!

Posted: 30 November 2018 in Uncategorized

Hai, Assalamualaikum!

Sudah di penghujung tahun lagi. Jangan bilang tak te-rasa ya hahaha. Karena buat gw tahun ini penuh rasa. Tahun kedua bersama KIMI, gw meminta diri sendiri untuk berusaha benar benar hadir jiwa dan raganya di setiap momen. Memaksa diri untuk perhatian pada diri sendiri. Aware pada berbagai varian kondisi yang Allah hadirkan.

Daan kalo boleh dibuat highlight, setahun ini hidup gw bisa dirangkum dengan judul: Menghadapi Ketakutan. Menjalani Konsekuensi. Kyaaaaaaa (backsound rollercoster terjun bebas beserta teriakan semua penumpangnyaaaa~)

Mari kita mulai dari Desember 2017. Kala itu, gw merasa ingin meletus layaknya gunung berapi yang sebelumnya -terlihat- tenang. Gw ditunjuk langsung untuk menjadi caleg dari sebuah parpol #aelah. Mungkin bagi sebagian besar orang, ibu menyusui berbalita dua mudah saja menolak amanah ini. Nyatanya tidak, melihat cerita hari ini yang nanti akan diceritakan. Faktanya, gw tak pernah bisa menghindar dari takdir politik ini.

Berbulan-bulan gw merasakan emosi yang cukup besar ingin keluar. Begitu marah dengan keadaan. Menyesali banyak hal. Membuka celah celah kejahatan masuk. Monster berjilbab telah lahir ke permukaan bumi akibat ditunjuk jadi caleg. Haha haha. Petuah petuah religius tak bisa gw terima dengan tenang. Kala itu gw mulai bingung dengan arti kata sabar dan syukur. Rasanya dulu gw pernah paham. Tapi hari hari itu begitu sulit diamalkan.

Memasuki 2018, bersama KIMI kami membuat 3 doa yang sangat diharapakan bisa tercapai 1 tahun ke depan. Kalo ga salah isi doa gw itu: pindahan, bisa dapet pengasuh yang cocok sama bocah, rutin nulis. Bener ga ya? 😂 Bulan bulan berikutnya gw jalani bersama KIMI dan challengenya sebagai salah satu ikhtiar menjemput hasil dari doa-doa.

Di bulan Januari, kita mesti beberes dengan hati. Saat beberes itu, gw masih tinggal di rumah Bapak. Dan terus terpikir untuk hidup mandiri. Pindah dari rumah penuh kenangan yang gw peluk terlalu kencang. Tapi begitu banyak ketakutan. Sehingga hanya menjadi angan. Beberes yang gw lakukan kala itu gw anggap barang-barang yang tersisa layaknya akan pindahan. Buku buku banyak dikeluarkan. Peralatan bayi disumbangkan. Baju secukupnya saja yang tertinggal di lemari. Suatu hari akan pindah kan? Hiburku pada diri sendiri. Hhhh ..

Februari. Tugasnya adalah cek kondisi gigi. Agak kocak rasanya karena gw biasa memeriksa gigi orang. Mesti cari dokter gigi lain. Serunya adalah gw ga pengen dokter giginya tau kalo gw adalah dokter gigi. Ampe mules dan deg degan nunggu dipanggil. Gini yaa rasanyaa. Siap siap muke planga plongo jadi pasien polos. Alhamdulillah dokternya hepi dapet pasien ga ada lubang ga ada karang. Yeeey 🎉

Maret. Waktunya baca buku. Ikhtisar sekaligus hikmah yang gw dapat dari buku Hati yang Gembira adalah Obat karya mba Sophie Navita gw tulis di blog ini juga. Silakan scrolling ke bawah ya haha pengen banget dikulitin buk blognyaah

Banyak yang gw dapat dari membaca buku ini, percaya ga percaya bahkan sampe sekarang masi gw jadikan inspirasi dalam menghadapi gejolak kehidupan. Terutama untuk meminta pertolongan, mengomunikasikan masalah. Bagi pemendam tipe gw, perubahan menyikapi masalah ini ngaruh pisan. Laff banget deh sama buku yang satu ini!

April. Kita diminta untuk belajar lagi. Mengikuti kelas yang benar-benar kita butuhkan. Dari sekedar mencari judul kelas yang kita butuhkan aja kekelopek sebuah masalah. Banyak mau. Serakah. Pengen ikut ini juga, itu juga bagus. Hah. Akhirnya setelah dengan tabah menahan diri dan bertanya lagi pada diri sendiri, gw mengikuti sebuah kelas belajar nambel gigi depan (bahasa opo tho iki). Menurut gw kala itu sangat bermanfaat untuk gw yang jarang update ilmu kedokteran gigi. Dan bisa langsung diaplikasikan saat praktek sore. Hehe

Mei kita digosok untuk belajar cukup. Bertepatan dengan bulan Ramadhan, dilakukan gerebeg dapur, isi kulkas, rak piring, tak luput juga isi kamar mandi. Saat itu gw melakukannya dengan senaang, gw pastikan alat makan yang dimiliki sejumlah dengan anggota keluarga. Saat itu gw sudah mulai mencari dan memilih calon kontrakan. Happy!

Juni di akhir ramadhan dan liburan iedul fitri, diberikan challenge untuk bertemu dengan sesama member KIMI yang belum pernah bertemu atau sudah lama tak berbincang. Disini kita diminta untuk senantiasa berprasangka baik di setiap proses bertemu. Dari membuat janji, bertemu, kenalan lagi, ngobrol, curhaat, sampai perjalanan pulang. Challenge ini gw lakukan cukup banyak. 3x meet up dan 2x video call. Yang bener Shal? Iya bener, bentar nih gw kasi buktinya …

Nah di bulan ini tuh gw kalo ga salah sebulan lagi akan beneran pindah ke kontrakan daan makin mendekati masa persiapan bakal caleg, banyak sharing tentang real life ngontrak yang gw bahas selama meet up atau video call, dapet juga banyak semangat untuk menyambut amanah yang saat itu masih sangat gw gasuka. Huehehe.

Oke lanjutt ke Juli dan Agustus. Judulnya innerchild. Kita diminta melakukan cita cita kecil kita yang belum tercapai. Entah kenapa yang muncul pertama kali di kepala adalah jadi pembantu rumah tangga tapi di rumah sendiri hahaha. Jadi tidak menerima pekerjaan di rumah orang lain ya gaes maap maap aja ini mah.

Seru deh pokoknya. Campur aduk rasanya ngerjain celeng ini tuh. Yang kepo sama ceritanya boleh baca di ig ya https://www.instagram.com/p/BmGJeyljDHj/?utm_source=ig_share_sheet&igshid=1wgfm8iv07x9i

Oiya di bulan Juli ini gw mengikuti Healing for Woman di Bandung. Segerr bangeet. Gw banyak mendapatkan sudut pandang yang berbeda dalam menyikapi masalah yang datang. Melepaskan yang seharusnya tak perlu digenggam. Menyadari segala sesuatu yang terjadi adalah kita sendiri yang menariknya. Hasil dari doa doa kita, doa doa orang yang menyayangi kita. Sepulang dari sini gw mulai berniat semakin teguh untuk pindah rumah dan mulai mengerjakan amanah caleg yang selama ini gw ingin abaikan sama sekali.

Di bulan yang masih sama gw resmi jadi kontraktor. Tinggal berempat ajaa. Gimana rasanya? Seruu. Gaya hidup gw berubaaah paraah. Yang biasanya leyeh leyeh, lemak habis lahiran ga ilang ilang. Kini terpangkas habis hahaha. Capeek yaa jadi buibu beneran ituu. Mungkin karena lama gw menanti waktu ini, semua kerempongannya berusaha gw nikmati. Kehidupan yang jauh berbeda dari sebelumya malah gw syukuri, karena akhirnya bisa merasakan episode ini. Alhamdulillaah.

Di bulan September kita diminta berstirahat dan melakukan apa yang ingin dilakukan. Do what you love! Entah kenapa bagi gw ini kayak semacam sindiran. Bayangin ya gw ngomong “do what you love!” dengan pasang muka julid. Iya soalnya bulan ini gw bener bener mengurus kelengkapan bacaleg. Hingga akhirnya gw berhasil melewati seluruh rangkaian untuk resmi menjadi caleg DPRD kota Bogor Selatan.

Di akhir September, kampanye pun dimulai! Masih bingung mau ngapain, tau sih tapi masih agak susah untuk melakukan langkah pertama. Semangat yang sudah dipupuk dari berbulan sebelumnya rasanya layu lagi saat benar benar datang waktunya. Ingin kabur lagi, gamau serius menjalani. Tapi inilah konsekuensi, gw sudah berniat untuk mengerjakannya dengan semaksimal yang gw bisa. Maka gw paksa diri untuk memulai.

Datanglah Oktober dengan challenge mendengarkan. Di belahan bumi mana ada ibu ibu yang hobi mendengarkan?? Aku pun tak tahu. Tapi ini benar-benar nyambung dengan apa yang mesti gw lakukan sekarang. Banyak mendengar. Di bulan ini alih alih berhasil mendengarkan suami, yang ada beberapa konflik muncul karena gw menolak mendengar dengan baik, paling lancar mendengar Bilqis dan Ghina itupun kalo ibuknya sudah kenyang. Huehehe. Jangan coba ganggu Ibuk yang sedang lapar yess.

Bersamaan dengan itu, gw mulai aktif berkampanye, dimana sebagian besar intinya adalah kegiatan mendengarkan. Sulit. Berkenalan dengan berbagai jenis karakter dan kepentingan. Bebe si anak rumahan ini agak syok di awal. Namun pelan pelan mulai menemukan pola yang nyaman untuk diaplikasikan sebagai bentuk kampanye. Ketakutan meninggalkan anak tak terbukti sama sekali. Rasa sendirian yang awalnya muncul mulai terkikis. Sedikit demi sedikit gw mulai membentuk tim sukses dari berbagai warna dan latar belakang. Dari yang tadinya malu gw paksakan untuk lebih percaya diri. Rasa takut berkurang. Gw merasa bisa melihat dengan baik. Bahwa apa yang Allah beri saat ini, adalah takdir terbaik.

November. Thanks to Me!

Rasanya masih banyak yang ingin diceritakan. Bagi gw setahun ke belakang bukan hanya challenge yang dikerjakan begitu saja. KIMI menemani, mengingatkan, dan meyakinkan diri bahwa rasa sakit itu ada, sunatullah, agar kita bisa berhenti sejenak. Mengevaluasi. Memperbaiki. Lalu memulai kembali. Tak apa salah. Tak apa gagal. Dari situ kita bisa mengenal diri sendiri, dan tau apa yang dicari.

“Kupeluk erat indah hidupku. Hikmah yang kurasa sangat tulus~” (Bimbang, Melly Goeslaw)

Shalihaa! Setahun ke belakang sudah begitu banyak takut yang kamu hadapi. Masalah yang diselesaikan tanpa melarikan diri. Berapa sering jantung itu deg degan menghadapi kenyataan. Perut itu mules hanya karena membayangkan konsekuensi dari suatu pilihan. Kepala nyut nyutan saat sadar ada yang salah telah dilakukan. Nafas berat itu keluar menahan emosi yang tidak boleh salah disalurkan.

Hidup dengan sadar masih begitu baru bagiku. Rasanya pun lebih berat dari kehidupan yang lalu. Tapi entahlah, rasanya aku kini bisa bersyukur bisa menjadi diriku yang sekarang. Terimakasih sudah menjadi pahlawan untuk dirimu sendiri Shal! :’)

Di akhir, gw ingin mengucapkan banyak terimakasih untuk KIMI dan seluruh jajarannya. Bupon Achii yang ah yasudahlah tak usah dibahas karena terlalu banyaak, Bebeb penasehat KIMI yang teguh banget maksa maksa gw pindah ke kontrakan dan ngasi materi sepele hidup di kontrakan, main sosmed, sampe menghadapi masyarakat luas, maapin aku yang gatau apa apa inii hahaha. Pengurus KIMI yang betah nyimak curhatan sampah gw juga semua soulsisters bebo KIMI sekalian. I HEART YOU FULL!

Buku KIA Pedomanque (2)

Posted: 10 November 2018 in Uncategorized

Setelah gw bergabung dengan KIMI, menyadari kalau kita tau kondisi anak, tau akar masalahnya dan fokus cari solusinya itu bisa menelurkan rasa tenang. Gw terus berikhtiar memperbaiki kesalahan kesalahan sebelumnya dalam mengurus anak. Dan tibalah hari ini.

Ketika gw menjalani amanah sebagai calon anggota legislatif. Keluarlah gw dari rumah, kata orang namanya blusukan. Banyaak hal baru yang gw lihat. Fakta-fakta masyarakat menengah ke bawah terutama. Karena gw memang tinggal di perkampungan. Ga sulit mengetahui kabar masyarakat indonesia hari ini. Kalo gw mau.

Gw masih mau cerita tentang buku KIA ya gaes. Jadi suatu hari gw nongkrong di posyandu. Bawa Ghina. Sebelumnya gw memang suka nimbang Ghina di posyandu, tapi boam gitu deh sama yang lain. Gatau bayi lain itu usianya berapa, beratnya cukup atau ngga, tiap hari makan apa.

Ngobrollah sama kader posyandu dan menemukan fakta fakta bahwa masih banyak orang tua yang gamau mengupdate berat anaknya di posyandu. Bukaaan bukan karena mereka prever vaksinasi di rumah sakit. Bukan kalangan yang mampu untuk itu. Mereka takut. Takut karena anaknya kurus. Beratnya kurang. Minder. Duh kayak aku banget sik 😣

Udah ada masalah. Malah dipendem sendiri. Ruwet bymyself gitu. Padahal kader posyandu bisa banget bantu kan. Dan ternyata dipastikan semua ibu ibu punya buku pink KIA ini. Dimana, kalo dibaca dan diamalkan. InsyaaAllah bisa berkurang jauh masalah masalah balita yang bermacam macam ini. Mengamalkan memang sulit .. hhhh ~

Sedikit mikir ini budaya membaca yang kurang, atau memang kampung kita butuh kader posyandu yang juga blusukan ke rumah rumah ya. Karena mereka yang lebih tau dan aware tentang ginian. Karena kebanyakan masyarakat tidak tau. Pokoknya gatau aja. Posyandu dengan tugas dan tenaga yang diperbanyak menurut gw solusi yang cocok hehehe.

Jadi inget “cerita ibu pas aku masi kecil”. Waktu kita masih di Prancis. Setiap rumah yang memiliki bayi didatangi oleh petugas kesehatan. Dicek dan dijelaskan tentang cara mengurus bayi, membuat mpasi, standar makanan balita, dsb dsb. Pikir-pikir bagus juga dipraktekkan. Gw belom sampe mikirin gaji kader posyandu ya itu mereka juga curhat sik tapi kukan nyerep aspirasi aja yaa 🤸‍♀️

peluk kader posyanduu 🤗

Buku KIA Pedomanque (1)

Posted: 10 November 2018 in Uncategorized

Dulu, gw pernah sangat gasuka bahas berat badan bayi. Atau nimbang bayi. Karena gw merasa bayi gw kurus. Ga kurus kurus banget sih tapi kurang gendut. Laah. Gitu-gitu lah ya pasti banyak juga yang mengalami.

Kondisi itu walaupun banyak ibu yang mengalami baru gw sadari, sungguhlah memprihatinkan. Perasaan khawatir dan ngga hepi, padahal anaknya hepi hepi aja. Perasaan sudah berbuat banyak untuk anak, tapi merasa terus banyak kekurangan dan menyalahkan diri sendiri. Lalu sensitif sangat terhadap komentar orang.

Hhhh~ ini kasus yang sangat biasa tapi sebenernya ga baik-baik saja. Ga enak banget menjalani hari dengan perasaan begitu bukan. Gw mendapat pencerahan setelah dengan isengnya baca keseluruhan buku KIA. Yang warna pink itu loh.

Dalam buku ini ternyata lengkap isinya. Buku yang pernah gw sepelekan. Dari ibu hamil sampai anak lahir tumbuh dan berkembang. Semua dijabarkan di dalamnya. Tanda tanda kehamilan, kelahiran, cara membuat mpasi, cara menyiapkan asip, tumbuh kembang anak, jadwal imunisasi, dan part yang “paling gw sukai”, grafik KMS.

Disitu, adalah penentu kita BOLEH galau atau ngga tentang berat badan bayi. Kenyataan memperlihatkan, gw gaperlu galau berlebihan, karena berat bayi gw ga ada yang di bawah normal. Nyerempet iya pernah, dan disitu kita diperbolehkan galau. Tapi kalo sesuai standar mestinya kita bahagia bukannya? Jadi beratnya normal cuma keliatannya aja ga segendut anak lain, dan komentar orang begitu menyakitkan. Kenyataannya kita cuma iri dengan berat bayi orang, dan baperan.

Kesimpulannya, kalo kita udah berusaha maksimal untuk anak, kita tau ilmunya, anak ada di berat standar menurut KMS, dan hati ibuk masih risau. Berarti bukan anak yang sebenarnya menjadi penyebab. Tapi hati ibuk yang kena penyakit. Kenapa bisa sesulit itu untuk bersyukur .. Astaghfirullaah 😟

Si Ibuk Kuchel

Posted: 13 September 2018 in Uncategorized

Ternyata ga akan ada hari rumah akan rapi. Gw pikir di ujung hari, saat anak-anak tidur. Saat itu akan ada. Ternyata tidak untuk gw. Karena ikut ketiduran. Bersama segala rencana after anak-anak tidur. Hahaha.

Gw si ibuk yang sangat kaku pada ritme. Dan suka menanti me time yang paripurna. Jadi jarang merawat diri sendiri. Dari yang seribet skincare atau sekedar mandi. Rasanya mau mandi kalo udah beres ini ini ini. Mau skicare-an kalo udah ceklis itu itu itu. Halu!

Jadinya jarang mandi. Gausah skincare, bodylotion aja ga kesentuh sampe lotion yang di ujung tutupnya itu beku tau kaan? Terus gimanaa? Sadar buk sadaar ..

Lemesin~

Pelan-pelan gw ikuti kapan saja ada peluang gw manfaatkan. Untuk mandi walau terburu-buru. Merawat diri sambil ini itu. Gunting kuku pun gw skip. Tau-tau jari kuku udah item item ujungnya. Ya ampyoon. Jijik kali laah. Bisa dipukul pake penggaris kayu sama cekgu besar 😣

Kalo mau mandi, mandi aja. Gapapa walau cepet asyem lagi. Sangat berbeda soalnya. Udah mandi sama belom mandi. Beda mood hehehe. Mau pake lotion bisa kok sambil multitasking. Skincare pas anak anak belom pada bobo juga ga dosa buk. Gitu. Jangan gila ya buuk~

Soo, welcome again my skincare! Kita mulai dari enol lagi yaa 🤗

Kontrakan Lyfe

Posted: 6 September 2018 in Uncategorized

Dengan merdekanya Indonesia selama 73 tahun, maka genap sudah 1 bulan kami ngontrak rumah. Tinggal ber-empat aja. Gimana rasanya?

Alhamdulillah campur aduuk. Banyak senengnya, kadang ngerasa capek, ribet, terus seneng lagi. Gitu aja terus setiap gw berhasil melewati satu bab pelajaran belajar hidup beneran wkwkwk. Kondisinya tuh gw dari yang biasa tinggal di rumah bapak dengan segala fasilitas, pindah ke kontrakan petakan yang sederhana. Tanpa ART. Seumur- umur gw gapernah dah tanpa ART. Tiap ngekos aja cari yang ada mbaknyaa~ Tapi ini mimpi gw. Life goals 2018 yang gw tulis di awal tahun.

Jadi dari yang biasa mikirin bocah doang, sekarang mesti: masak, nyuci, jemur, setrika, nyapu ngepel, ngatur uang belanja, ngatur rumah dan seisinya. Dan ternyata Allah bikin gw bisa bersyukur dengan kondisi ini dengan cara menahan gw bertahun di rumah bapak dengan segala permasalahan sebelumnya 😅

Dulu setelah nikah, gw request sama Kak Anhar kalo gw pokoknya mau rumah dengan kamar mandi harus ada wc duduk dan shower. Juga bisa air panas. Seiring berjalannya waktu gw jadi ga pengen itu lagi, sama sekali. Gw sederhanakan keinginan. Hanya ingin tinggal ber4 aja. Dan jadilah. Kontrakan gw ber wc jongkok tanpa shower 😂

Suatu waktu sabun mandi kita habis jauh sebelum waktunya. Dan kini gw gabisa asal beli ini itu meski sekedar sabun mandi. Karena tercatat lalala lililinya. Gw mesti ijin dulu sama Kak Anhar. Gw dapet deh surat jalan beli sabun, tapi sabun batang. Agak hancur sih hati ibuk melihat kenyataan kalo kita mesti ganti spesies sabun. Tapi karena keborosan Bilqis yang suka banyak modus cuci ina inu taunya ditumpahin banyak banget itu sabun cair, gw setuju juga sementara ganti dulu deh.

Sampe rumah, gw buka bungkus sabun. Ya ampun, udah lama ih ga ketemu kamuu. Gw cium-cium, hmm wangii hihi, kok emesh ya liat sabun batang. Gw simpan di kamar mandi. Sorenya, Bilqis teriak kesenengan liat ada benda unyu itu di kamar mandi.

Ibuuk itu apaa?

Hihi, sabun kaak, lucu yaa

Iih gimana pakainya?? Bilqis sukaa

Ini ditaro di tangan, terus diginiin sampe keluar busa busanya, terus sabunan deh kayak biasanya

Waaw, Bilqis senaang 😍

Haha Ibuk juga senaang

Iya tadinya gw ga seseneng itu sih, tapi jadi seneng banget beneran. Karena tiap mandi Bilqis jadi semangat bener 😂

Lebih seru lagi menghadapi regulasi baju. Di pekan pertama, kita yang biasa asal pake dan ganti baju panik sendiri liat banyaknya tumpukan baju kotor. Cuma punya 2 ember kecil karena emang gw gasuka liat ember item gede gitu, ganggu mata. Dan kita belum ada mesin cuci gaes. Jadi cuci pake tangan kayak di iklan detergen. Kuchek bilas peres. Peres ya. E bukan e 🤣

Akhirnya kita ke laundry, ga sanggup. Setelah itu baru kita atur ritme cuci baju yang sore udah pasti kering. Selanjutnya nyetrika. Ini sih istighfar banget yaa. Sampe sekarang masi PR. Yang pasti sih sekarang gw banyakan lipetin aja dibanding setrikain. Kadang pengen panggil orang buat setrikain. Ah tapi gw sadar sih, bukan kurang waktunya, tapi masih suka nunda dan males gerak aja buk. Soo sedikit sedikit gw cicil dan menyetop nunggak baju dari jemuran. Disiplin!

Masak? Hahaha. Sejujurnya gw enol banget sama dapur. Gw teh jago masak mpASI bayi doang. Dimana itu ga ada rasanya you knowlaah. Jadi untuk masak gw bertumpu pada gugel dan nanya nanya orang. Alhamdulillah di beberapa kesempatan Kak Anhar muji masakan gw. Mihihihi. Liat aja nanti gw bisa masak selain sop sama bayem!!

Oiya, selain itu, di hari pertama kami ngontrak, itu juga hari pertama Bilqis sekolah. Jadi gw punya rutinitas anter jemput doi di antara ritme kehidupan lainnya.

Hwaah sejauh ini gw sangat sangat bersyukur. Bisa makan dan tidur dengan nyaman setiap hari, setiap malam. Ketakutan ketakutan gw saat sebelum memulai ini semua terkikis perlahan. Gw bisa kok. InsyaaAllah. Oiya lokasinya juga gajauh dari rumah bapak. Tinggal jalan kaki aja (kalo mau) hehe.

Terakhir, gw jadi merasakan pengorbanan Kak anhar untuk kami lebih besar dan nyata lagi. Seruduk ayaah 😙

Masi banyak kisah serunya tapi nanti kelian bosen bacanya haha. Maap atas segala ke norak an yang telah gw perbuat yaah. Btw gw baru aktif instagram dan suka cerita juga, bole liat @shalihahasim. Gajauh beda isinya juga berceloteh kok. Haha. Sekiaaan 😁

17an

Posted: 17 August 2018 in Uncategorized

Gapunya ide apa apa tentang 17 agustus dan hari kemerdekaan. Setiap tahun gw menganggap hari ini biasa saja. Hari libur yang diawali dengan upacara. Nonton pengibaran bendera di TV, dimana sorenya benderanya dilepas. Ada lomba-lomba seharian itu.

Entah gw sulit tersentuh dengan sejarah dan apa yang pahlawan lakukan untuk Indonesia. Bagi gw, seperti orangtua, gw gabisa milih akan lahir di tanah air yang seperti apa. Pada kondisi di tahun 1940an itu bukankah mereka sudah seharusnya melakukan semua itu? Mereka sudah membebaskan Indonesia dari penjajahan, baru berpuluh tahun kemudian gw lahir. Apakah gw berhutang budi? Lama lama gw pikir iya juga sih.. kalo ga ada gerak mereka, mau jadi apa kita hari ini?

Gw ga pengen juga sih Indonesia dijajah lagi biar orang-orang semacam gw sadar akan makna kemerdekaan. Yang sombong dan egois, yang penting hidup gw aman, nyaman. Gw pun masi mengorek cara agar anak gw bisa cinta gitu sama tanah air.

Tapi bingung gimana caranya. Kalo baca bukunya Hasan Al Bana, kita mesti membangun sesuatu dari diri sendiri dulu, setelah itu keluarga, baru masyarakat lalu lebih luas lagi. Nah agaknya untuk kasus ini gw masih ada di kasta terendah, masih sibuk benahin diri sendiri. Masih berkorban untuk diri sendiri dan keluarga aja. Belom segitunya sama masyarakat. Pengen sih, peduli banget malah, tapi geraknya masih berat.

Terus kenapa gw nulis beginian? Tahun ini gabiasa sih buat gw. Kayaknya gw harus lebih aware sama kemerdekaan. Sama tanah air. Tentang mensyukuri segala bentuk anugerah Tuhan. Tahun ini gw dapet amanah jadi caleg. Setiap orang punya awal yang berbeda beda ya haha. Ini adalah trigger gw keluar kandang.

Gw tau, banyak juga orang mager kayak gw merasa 17 Agustus sekedar hari libur di antara hari kerja yang melelahkan. Gausah jauh-jauh. Tinggal lirik kamar adek-adek gw ae wkwkwk. Bagi kami, ini tuh bukan hari yang gimana gitu. Meskipun kita sama sama belajar sejarah, dan tau segimana sulitnya menjemput hari dimana kita bisa leyeh-leyeh dengan aman begini …

So, bismillah, gw akan mulai keluar rumah. Mulai bergerak dari yang paling mudah.

Bagi gw, merdeka itu bisa menyampaikan apa yang benar benar bersarang di pikiran. Tidak takut dan tertekan. Terimakasih sudah membaca. Pikiranku yang kemarin, bisa jadi sudah bukan jadi pikiranku hari ini. Kamu pun bebas begitu. Merdeka!