Image  —  Posted: 29 September 2016 in Uncategorized

Kakak Kelas, Detektif.

Posted: 7 September 2016 in Uncategorized

Entah kenapa berbincang denganmu rasanya tak bisa selesai selesai. Kecuali alam yang menyelesaikannya secara paksa. Rasanya dunia tak pernah berhasil habis kita kuliti. 

Entah kenapa, menikmati makanan bersamamu rasanya berbeda. Aku hanya senang. Dari sekedar sudut kosan jatinangor sampai pusat kota bandung. Dalam kurun 7 tahunku itu, jika bersantap bersamamu, aku hanya senang.

Entahlah ada apa sebenarnya di antara kita. Tapi berbagai rencana unik aneh sampai konyol selalu lancar kejadiannya mengiringi gerak langkah kita. Proyek OREO adalah yang terbaik, aku tau kamu setuju. Juragan kayu adalah kisah yang juga merenggut sepotong hatiku. Unggas adalah geng teraneh yang berhasil dibentuk. Mari sejenak tertawa.

Entah kapan sebenarnya pertama kali kita bertemu, pertama kali kita berseteru, pertama kali kita memilih untuk jalan berdua saja, pertama kali punya ide untuk saling menginap dengan tumpukan makanan dan perbincangan seru, pertama kali kita menyepakati hal hal tertentu, pertama kali kita bisa saling berbincang tanpa perlu bersuara…

Maka pada TPQ kita, masjid masjid tempat kita rapat sambil menikmati makanan ayam hingga mabit bersama, pada damri damri jadul itu, pada lorong lorong di gedung kampus, pada kamar yang penuh toolbox dan buku, pada kantin fakultas mana saja, pada tempat duduk di sudut angkutan itu, kutinggalkan penggalan kisah kita. Yang menjadi saksi ledakan tawa, juga air mata.

Entah aku hanya sedikit takut, atau sebenarnya sangat takut menghadapi tahun tahun ke depan benar benar tanpa kamu. Saat bandung bukan lagi kamarmu yang menjadi tujuan nomer satuku, saat kampus bukan lagi kesana lagi seharusnya mencarimu. Saat kamu bukan lagi milik kita semua tapi milik seorang saja. Mengerikan tapi terus kunantikan. Menakutkan yang selalu kudoakan. Ah, Aku cuma takut kamu hilang, selebihnya aku tetap senang. 

Terimakasih sudah menemani beberapa episode keunyuan dalam hidupku. Terimakasih sudah mengajakku merasakan juga keunyuan hidupmu yang lebih unyu. Terimakasih sudah mau menjadi ayam duaku.

Selamat hari lahir,, saudaraku selamanya 👭💑

Kata abah ihsan waktu itu …

Posted: 29 August 2016 in Uncategorized

Jika tidak bisa mengerjakan semuanya, jangan tinggalkan semuanya

Sayang ibuk 💋

Posted: 29 August 2016 in Uncategorized

Pas ibuk lagi bobok, ada lengan masuk ke sela sela leher, ada yg mungil basah nemplok di pipi, disambung bunyi 

“mmuah sayang ibu sayaaang ibuu”

Pas ibuk melek, pandangan tertutup rambut kribo kemerahan bau keringet belom disisir beberapa hari

💞

Ambilin tisu!

Posted: 29 August 2016 in Uncategorized

Bilqis, ibuk sedih … 

Ibu jangan sedih.. ayah! Tolong ambilin tisu!

Hah? *Ibu ayah saling menatap*

Ayah ambilin tisuuu !!

*ayah ngasi tissue*

Ibu jangan sedih, jangan nangis ya *ngelap mata ibuk pake tissue*

Eh perasaan ibu lg dramanya gapake air mata deh bil *ibu ayah saling menatap lagi sambil nahan ngikik*

Sebelum berangkat praktek

Posted: 29 July 2016 in Uncategorized

Huaa bilqis ibuk sediih

Kenapa sedih? Jangan sediih

Ibu gabisa praktek😦 pengen muntah😥

Ibu bisaa

Gabisaa😦

Ibu pergi sana, bilqis ditinggal aja sama ayah

Terus dipeluk dan dicium cium basah sama bilqis 

Nyoo :’)

Bilqis jadi ibuknya, aku jadi anaknya

Terlalu Indah -copas-

Posted: 1 July 2016 in Uncategorized

DARI JI’RANAH KITA BELAJAR MENGELOLA KECEWA

😭😭😭

|Dwi Budiyanto|

Di Ji’ranah hari itu ada kecewa.
Ada kebijakan Rasulullah yang tak dipahami.

Ada keputusan yang disalah mengerti.
Sangat manusiawi kelihatannya.
Orang-orang Anshar merasa disisihkan selepas perang Hunain yang menggemparkan.

Mereka telah berjuang total.
Mereka berperang di sisi Rasul dengan penuh kecintaan.
Tapi, harta rampasan perang lebih banyak dibagikan pada orang-orang Quraisy dan kabilah-kabilah Arab lainnya.
Sementara pada mereka, seakan hanya memperoleh sisa.

Padahal, semua orang tahu, sebagaimana Rasul pun juga mengetahuinya.
Merekalah yang berjuang dengan sepenuh iman ketika orang-orang Quraisy dan kabilah Arab itu lari tunggang langgang pada serangan pertama pasukan Malik bin Auf An-Nashry.

Maka, hari itu di Ji’ranah, ada yang kasak-kusuk, ada yang memercikan api.
“Demi Allah, Rasulullah saw telah bertemu kaumnya sendiri…!!!”
Kalimat itu jelas sarat kekecewaan.

Hari itu juga utusan Anshar, Sa’d bin Ubadah menemui Sang Rasul.
Hatinya gusar.
Ia ingin segera sampaikan apa yang dirasakan sahabat Anshar pada beliau.
Ada yang mengganjal di hati, tapi (mungkin) mereka anggap tak layak untuk disampaikan.
Sa’ad bin Ubadah lah yang memberanikan diri.

“Ya Rasulullah, dalam diri kaum Anshar ada perasaan mengganjal terhadap engkau, perkara pembagian harta rampasan perang.
Engkau membagikannya pada kaummu sendiri dan membagikan bagian yang teramat besar pada kabilah Arab, sementara orang-orang Anshar tidak mendapat bagian apapun.”

Kita menangkap protes itu disampaikan dengan lugas tapi tetap santun.
Ada kecewa, tapi iman mereka mencegahnya dari sikap yang merendahkan.
Ada ganjal di hati, tapi bukan amarah tak terkendali.

“Lalu, kamu sendiri bagaimana Sa’ad..?”
Tanya Sang Rasul.

“Wahai Rasulullah, aku tidak punya pilihan lain, selain harus bersama kaumku.”
Jawab Sa’d menjelaskan perasaannya.
Jujur.
Apa adanya.
Ia tidak menutup-nutupi bahwa dirinya juga kecewa.
Rasulullah lalu meminta mengumpulkan semua orang Anshar.
Pada mereka Rasul menenangkan.

“Bukankah dulu aku datang dan kudapati kalian dalam kesesatan, lalu Allah berikan kalian petunjuk..?
Bukankah dulu saat aku datang kalian saling bertikai, lalu Allah menyatukan hati kalian..?
Bukankah dulu saat aku datang, kalian dalam keadaan miskin, lalu Allah mengayakan kalian..?”

Orang-orang Anshar itu membenarkan.
Mereka memang sedang dilanda kecewa, tapi lihatlah betapa mereka memilih diam, dan tidak balik menyerang dengan kata-kata dan argumentasi yang dapat diungkapkan.

Disebabkan iman sematalah mereka bersikap hormat pada Sang Rasul, meski mereka teramat kecewa.
Saya bayangkan hari itu di Ji’ranah.
Para sahabat yang mengelilingi Rasulullah.

“Demi Allah, jika kalian mau kalian bisa mengatakan:
Engkau dulu datang kepada kami dalam keadaan didustakan, lalu kami membenarkan.
Engkau dulu datang kepada kami dalam keadaan lemah, lalu kami menolongmu.
Engkau dulu datang kepada kami dalam keadaan terusir, lalu kami memberikan tempat.
Engkau dulu datang kepada kami dalam keadaan miskin, lalu kami yang menampungmu.”

Saya bayangkan Rasul yang mulia menghela nafas sejenak.
Dapat kita rasakan kata-kata itu menggetarkan dada orang-orang yang diliputi iman itu.
Saya bayangkan tempat itu mendadak senyap, kecuali suara Rasulullah yang teduh.
Beberapa sahabat mulai menitikkan airmata.

“Apakah ada hasrat di hati kalian pada dunia..?”
Tanya Rasulullah tanpa susulan jawab dari para sahabat.
Semua terdiam.

Pertanyaan itu mengetuk sisi terdalam dari jiwa para sahabat.
Jiwa yang sejak semula disemai iman.

“Padahal, dengan dunia itu aku hendak mengambil hati segolongan orang agar masuk Islam.”
Rasul mulai menjelaskan alasan kebijakannya.

Saya bayangkan para sahabat Anshar yang mengangguk paham dalam diam.
“Sedangkan terkait keimanan kalian, aku sudah teramat percaya.”
Kata-kata itu begitu dalam dan jujur.

Tetes airmata tak kuasa lagi ditahan.
Terlebih ketika Rasulullah melanjutkan:
“Apakah kalian tidak berkenan di hati jika orang-orang lain pergi membawa onta dan domba, sementara kalian pulang bersama Rasul Allah..?”

Sebuah perbandingan yang kontras.
Kesadaran itu hadir tidak tiba-tiba.
Tangis para sahabat meledak.
Jika bukan karena iman, kekuatan apa yang mampu menghadirkan kesadaran setelah kekecewaan..?
Sungguh, iman merekalah yang menyebabkan semua itu terjadi.

😭😭😭

Kisah di atas teramat panjang.
Dari dalamnya kita belajar bagaimana dalam komunitas kebaikan sekalipun, kekecewaan itu nyaris tak dapat dielakkan.

Setiap kita mungkin pernah kecewa.
Sebabnya bisa bermacam-macam.
Tapi sebagiannya karena kita tak persepaham dengan orang lain: apakah kelakuannya, kebijakannya, pernyataannya, perhatiannya, atau apapun.
Kita pun bisa kecewa karena merasa tidak mendapat dukungan yang memadai.
Kecewa itu bisa muncul dimana-mana, bahkan dalam dakwah sekalipun.

Di dalam bilik-bilik rumah bisa lahir kekecewaan.
Suami kecewa pada istri atau sebaliknya, istri kecewa dengan suami.
Di ruang-ruang kerja, kekecewaan dapat juga timbul.
Di manapun ketika kita berinteraksi dengan orang lain, kekecewaan bisa hadir tiba-tiba.

Dalam dakwah, kecewa bisa juga tumbuh bagai ilalang.
Sebabnya bisa bermacam-macam.
Gagasan yang “dianggap” tidak diperhatikan, selera-selera yang tak sama, kebijakan qiyadah yang tak memenuhi keinginan kita, perilaku dan tindakan ikhwah, dan yang lain.

Hanya kekuatan imanlah yang mampu menjaga kita dari penyikapan yang salah saat kecewa.
Sebagian di antaranya menyikapi dengan marah, kalap, bahkan bisa juga dengan “mutung”.
Sebagian yang lain menyikapi dengan cara-cara yang lebih arif dan bijak.

Jika kecewa datang menggerogoti, periksalah kembali orientasi kita.
Periksalah motif kita.
Periksa pula niat-niat kita dalam beramal dan beraktivitas.
Inilah saat paling tepat untuk menakar motif dan orientasi kita.

Semoga pengiring atas rasa kecewa adalah sikap lapang dada, semangat beramal yang makin menggelora, keikhlasan yang mempesona, dan penghormatan pada sesama.

Jangan biarkan, kekecewaan ditanggapi dengan aktivitas yang tidak memuliakan kita.
Jangan pula sampai kekecewaan menyeret kita pada devisit iman dan juga devisit emosi.

Sedari awal, kita memilih jalan dakwah,  bukan karena ingin selalu disenangkan.
Bukan pula hasrat untuk terus dimenangkan.
Kadang tak semua hasrat hati mesti terturuti.
Begitulah tabiat perjalanan ini: kesediaan untuk berjalan bersama, mesti diikuti lapang dada atas segala kecewa yang muncul menggoda.

Kita memilih jalan dakwah semata karena berharap ridha Allah.
Seluruh rasa kecewa itu hanyalah diliput atas kerinduan kita yang besar atas keridlaan Allah.

Semoga Allah menjaga keistiqamahan kita dan menguatkan keikhlasan kita dalam beramal