Sebelum berangkat praktek

Posted: 29 July 2016 in Uncategorized

Huaa bilqis ibuk sediih

Kenapa sedih? Jangan sediih

Ibu gabisa praktek😦 pengen muntah😥

Ibu bisaa

Gabisaa😦

Ibu pergi sana, bilqis ditinggal aja sama ayah

Terus dipeluk dan dicium cium basah sama bilqis 

Nyoo :’)

Bilqis jadi ibuknya, aku jadi anaknya

Terlalu Indah -copas-

Posted: 1 July 2016 in Uncategorized

DARI JI’RANAH KITA BELAJAR MENGELOLA KECEWA

😭😭😭

|Dwi Budiyanto|

Di Ji’ranah hari itu ada kecewa.
Ada kebijakan Rasulullah yang tak dipahami.

Ada keputusan yang disalah mengerti.
Sangat manusiawi kelihatannya.
Orang-orang Anshar merasa disisihkan selepas perang Hunain yang menggemparkan.

Mereka telah berjuang total.
Mereka berperang di sisi Rasul dengan penuh kecintaan.
Tapi, harta rampasan perang lebih banyak dibagikan pada orang-orang Quraisy dan kabilah-kabilah Arab lainnya.
Sementara pada mereka, seakan hanya memperoleh sisa.

Padahal, semua orang tahu, sebagaimana Rasul pun juga mengetahuinya.
Merekalah yang berjuang dengan sepenuh iman ketika orang-orang Quraisy dan kabilah Arab itu lari tunggang langgang pada serangan pertama pasukan Malik bin Auf An-Nashry.

Maka, hari itu di Ji’ranah, ada yang kasak-kusuk, ada yang memercikan api.
“Demi Allah, Rasulullah saw telah bertemu kaumnya sendiri…!!!”
Kalimat itu jelas sarat kekecewaan.

Hari itu juga utusan Anshar, Sa’d bin Ubadah menemui Sang Rasul.
Hatinya gusar.
Ia ingin segera sampaikan apa yang dirasakan sahabat Anshar pada beliau.
Ada yang mengganjal di hati, tapi (mungkin) mereka anggap tak layak untuk disampaikan.
Sa’ad bin Ubadah lah yang memberanikan diri.

“Ya Rasulullah, dalam diri kaum Anshar ada perasaan mengganjal terhadap engkau, perkara pembagian harta rampasan perang.
Engkau membagikannya pada kaummu sendiri dan membagikan bagian yang teramat besar pada kabilah Arab, sementara orang-orang Anshar tidak mendapat bagian apapun.”

Kita menangkap protes itu disampaikan dengan lugas tapi tetap santun.
Ada kecewa, tapi iman mereka mencegahnya dari sikap yang merendahkan.
Ada ganjal di hati, tapi bukan amarah tak terkendali.

“Lalu, kamu sendiri bagaimana Sa’ad..?”
Tanya Sang Rasul.

“Wahai Rasulullah, aku tidak punya pilihan lain, selain harus bersama kaumku.”
Jawab Sa’d menjelaskan perasaannya.
Jujur.
Apa adanya.
Ia tidak menutup-nutupi bahwa dirinya juga kecewa.
Rasulullah lalu meminta mengumpulkan semua orang Anshar.
Pada mereka Rasul menenangkan.

“Bukankah dulu aku datang dan kudapati kalian dalam kesesatan, lalu Allah berikan kalian petunjuk..?
Bukankah dulu saat aku datang kalian saling bertikai, lalu Allah menyatukan hati kalian..?
Bukankah dulu saat aku datang, kalian dalam keadaan miskin, lalu Allah mengayakan kalian..?”

Orang-orang Anshar itu membenarkan.
Mereka memang sedang dilanda kecewa, tapi lihatlah betapa mereka memilih diam, dan tidak balik menyerang dengan kata-kata dan argumentasi yang dapat diungkapkan.

Disebabkan iman sematalah mereka bersikap hormat pada Sang Rasul, meski mereka teramat kecewa.
Saya bayangkan hari itu di Ji’ranah.
Para sahabat yang mengelilingi Rasulullah.

“Demi Allah, jika kalian mau kalian bisa mengatakan:
Engkau dulu datang kepada kami dalam keadaan didustakan, lalu kami membenarkan.
Engkau dulu datang kepada kami dalam keadaan lemah, lalu kami menolongmu.
Engkau dulu datang kepada kami dalam keadaan terusir, lalu kami memberikan tempat.
Engkau dulu datang kepada kami dalam keadaan miskin, lalu kami yang menampungmu.”

Saya bayangkan Rasul yang mulia menghela nafas sejenak.
Dapat kita rasakan kata-kata itu menggetarkan dada orang-orang yang diliputi iman itu.
Saya bayangkan tempat itu mendadak senyap, kecuali suara Rasulullah yang teduh.
Beberapa sahabat mulai menitikkan airmata.

“Apakah ada hasrat di hati kalian pada dunia..?”
Tanya Rasulullah tanpa susulan jawab dari para sahabat.
Semua terdiam.

Pertanyaan itu mengetuk sisi terdalam dari jiwa para sahabat.
Jiwa yang sejak semula disemai iman.

“Padahal, dengan dunia itu aku hendak mengambil hati segolongan orang agar masuk Islam.”
Rasul mulai menjelaskan alasan kebijakannya.

Saya bayangkan para sahabat Anshar yang mengangguk paham dalam diam.
“Sedangkan terkait keimanan kalian, aku sudah teramat percaya.”
Kata-kata itu begitu dalam dan jujur.

Tetes airmata tak kuasa lagi ditahan.
Terlebih ketika Rasulullah melanjutkan:
“Apakah kalian tidak berkenan di hati jika orang-orang lain pergi membawa onta dan domba, sementara kalian pulang bersama Rasul Allah..?”

Sebuah perbandingan yang kontras.
Kesadaran itu hadir tidak tiba-tiba.
Tangis para sahabat meledak.
Jika bukan karena iman, kekuatan apa yang mampu menghadirkan kesadaran setelah kekecewaan..?
Sungguh, iman merekalah yang menyebabkan semua itu terjadi.

😭😭😭

Kisah di atas teramat panjang.
Dari dalamnya kita belajar bagaimana dalam komunitas kebaikan sekalipun, kekecewaan itu nyaris tak dapat dielakkan.

Setiap kita mungkin pernah kecewa.
Sebabnya bisa bermacam-macam.
Tapi sebagiannya karena kita tak persepaham dengan orang lain: apakah kelakuannya, kebijakannya, pernyataannya, perhatiannya, atau apapun.
Kita pun bisa kecewa karena merasa tidak mendapat dukungan yang memadai.
Kecewa itu bisa muncul dimana-mana, bahkan dalam dakwah sekalipun.

Di dalam bilik-bilik rumah bisa lahir kekecewaan.
Suami kecewa pada istri atau sebaliknya, istri kecewa dengan suami.
Di ruang-ruang kerja, kekecewaan dapat juga timbul.
Di manapun ketika kita berinteraksi dengan orang lain, kekecewaan bisa hadir tiba-tiba.

Dalam dakwah, kecewa bisa juga tumbuh bagai ilalang.
Sebabnya bisa bermacam-macam.
Gagasan yang “dianggap” tidak diperhatikan, selera-selera yang tak sama, kebijakan qiyadah yang tak memenuhi keinginan kita, perilaku dan tindakan ikhwah, dan yang lain.

Hanya kekuatan imanlah yang mampu menjaga kita dari penyikapan yang salah saat kecewa.
Sebagian di antaranya menyikapi dengan marah, kalap, bahkan bisa juga dengan “mutung”.
Sebagian yang lain menyikapi dengan cara-cara yang lebih arif dan bijak.

Jika kecewa datang menggerogoti, periksalah kembali orientasi kita.
Periksalah motif kita.
Periksa pula niat-niat kita dalam beramal dan beraktivitas.
Inilah saat paling tepat untuk menakar motif dan orientasi kita.

Semoga pengiring atas rasa kecewa adalah sikap lapang dada, semangat beramal yang makin menggelora, keikhlasan yang mempesona, dan penghormatan pada sesama.

Jangan biarkan, kekecewaan ditanggapi dengan aktivitas yang tidak memuliakan kita.
Jangan pula sampai kekecewaan menyeret kita pada devisit iman dan juga devisit emosi.

Sedari awal, kita memilih jalan dakwah,  bukan karena ingin selalu disenangkan.
Bukan pula hasrat untuk terus dimenangkan.
Kadang tak semua hasrat hati mesti terturuti.
Begitulah tabiat perjalanan ini: kesediaan untuk berjalan bersama, mesti diikuti lapang dada atas segala kecewa yang muncul menggoda.

Kita memilih jalan dakwah semata karena berharap ridha Allah.
Seluruh rasa kecewa itu hanyalah diliput atas kerinduan kita yang besar atas keridlaan Allah.

Semoga Allah menjaga keistiqamahan kita dan menguatkan keikhlasan kita dalam beramal

Gils DALEM 😭

Posted: 29 June 2016 in Uncategorized

*Susah dan suka ngantuk saat tarawih dan tahajjud?*

Terlebih lagi jika kita suka ketiduran di 10 malam terbaik di bulan suci, padahal stamina sudah dijaga dan berbagai vitamin plus kopi pahit telah diminum.

Simak testimoni dan tips para ahli ibadah papan atas:

Sufyan Ats Tsauri menyatakan:
“Aku tidak berhasil mengerjakan qiyamul lail selama 5 bulan disebabkan dosa yang aku lakukan.”
(Hilyatul Auliya’ 7/17)

Ada seseorang yang curhat kepada Hasan Al Bashri bahwa dia tidak pernah berhasil mengerjakan qiyamul lail, maka beliau berkata:
*”Dosa-dosamulah yang menghalangimu.”*
(Shifatus Shafwah 3/235)

Saudaraku,
Salah satu tips agar kita sukses mengerjakan tarawih dan qiyamul lail adalah menjaga diri dari dosa dan segera beristigfar saat khilaf dan lalai.

*Apa yang anda lakukan di siang hari menentukan ibadah anda di malam hari.*

✏ Muhammad Nuzul Dzikri

Telegram
@muhammadnuzuldzikri

Fatal (!!)

Posted: 29 June 2016 in Uncategorized

image

Kesalahan diri saya sadari setelah grup emak emak ini posting update tilawahya. Satu satu disebutkan nama pelakunya dan jumlah khatam.

Hyaa udah pada khatam di 10 hari pertama 😨 padahal sesama emak emak, punya anak lebih dari satu pulaak. Sukses banget grup ini deh nampar bolak balik bolak balik bolak baliikk 😭

Ga ada alasan banget buat khilaf tilawah karena ngantuk capek males dan kawan kawan .. ARGH

Bahkan beda 1x khatam pun itu udah jomplang banget pahalanya. Paraah. Lupa apa ya pahalanya kan tiap sehuruf sehuruf hijaiyaah, dan beda sekali khatam tuh ada berapa huruuf, beda 2x khatam jadi berapaa, beda 3x khataam oh Allah, beda xx khatam Astaghfirullahaladziim …..

FATAL T.T

“Siapa yang membaca satu huruf dari Al Quran maka baginya satu kebaikan dengan bacaan tersebut, satu kebaikan dilipatkan menjadi 10 kebaikan semisalnya dan aku tidak mengatakan “alif lam mim” satu huruf akan tetapi Alif satu huruf, Laam satu huruf dan Miim satu huruf” ( HR. Tirmidzi dan dishahihkan di dalam kitab Shahih Al Jami’, no. 6469)

Surprise

Posted: 17 June 2016 in Uncategorized

Kemarin  malem pas pulang klinik masih harus ngeliuk liuk buat ngehindarin jalan berlubang *sampe hafal ibu mana aja lubangnya*

Dan …

Hari ini udah ditambal 😨😨

Parah sih rasanya kayak dikasi SURPRISE!! 🎉🎈🎇

Kapan sih kalian ngaspal jalannyaaa ((applause)) bener bener dari depan rumah sampe jalanan menuju klinik, semua lubangnya udah ditambal. Dengan karakteristik tambalan yang identik. Berarti pelakunya sama, seprogram, seproyek satu tujuan: kasi hadiah buat aku :’)

Dapet pahala banyak banget, yang kegeeran kayak aku pasti banyak deh nih, lagi ramadhan pula 🌼🐝

Terimakasih Allah, untuk team aspal jalan yang engkau anugerahkan di bulan penuh keberkahan 💘

Dari Obin

Posted: 16 June 2016 in Uncategorized

image

Habis nulis “Sang Pemegang Mic” ada pembaca yang kirim ini

Wkwkwk pembaca banget

Makasi biin 💋

Semoga bisa memotivasi yang lain untuk jadi agen perapat shaf pas tarawih di masjid nanti malam😉

Eh Raffi Ahmad adzan, gitu aja ya udah, selamat berbuka puasaa 🎉

Et dah itu notif ansyitoh napa ikut yak, jadi inget helium pesenan obin, mungkin ini pertanda …

Sang Pemegang Mic

Posted: 14 June 2016 in Uncategorized

Shalat tarawih di masjid bukanlah kebiasaan yang saya jalani. Sejak kecil saya terbiasa shalat tarawih berjamaah di rumah dengan seluruh personil keluarga tanpa kecuali. Jadi ga ada yang ke masjid. Kecuali ikut bapak pas lagi jadi imam di masjid, tapi niatnya lebih ke naik mobil sama bapak malem malem, seru dan keangetan :p

Saat ngekos di jatinangor pun, karena kosan akhwat, shalat tarawih dilaksanakan berjamaah di mushala kosan. Kali itu pun saya masih tidak tau bagaimana kondisi umat muslim sedunia yang hobi tarawih di masjid, sampai saya ngekos di bandung . . .

JENG JENG JEENG

Di kosan bandung ini, ketika pertama kali tarawih, saya berniat ajak beberapa orang berjamaah saja di kamar seseorang. Eh tak taunya sebelum muadzin adzan isya, orang orang udah pada siap mau berangkat ke masjid. Saking siapnya sudah pakai mukena dari kosan. wow wow wow. Oke saya pikir, mungkin ini saatnya mencoba.

Saya pun bersiap ikut ke masjid juga, dan coba pakai mukena dari kosan. Tarawih pun dimulai. Dan yak selama shalat saya malah rungsing sendiri. Geser ke kanan, sebelah kiri ga ikut merapat, narik lengan yang di kiri, doi malah mengencangkan diri tertancap di tepatnya berdiri, gamau geser. You know what??? SHAFNYA RENGGANG RENGGANG!!!

Ih kesel banget loh ini, ada lagi tambah sebel melihat kenyataan ternyata mereka bertahan di atas sajadah masing masing, yang mana sejadahnya itu besar, jadilah bikin shaf makin kacao balao. Ada lagi pas beberapa rakaat, eh dia malah kabur dengan alasan entahlah karena saya bukan guru piket. Terus ga ada yang geser menutup shaf yang berlubang. Lah ini kok malah jadi kayak shalat rawatib masing masing. KYAAAAAAA

Dalam benak yang histeris, terpikir gimana ya caranya biar shafnya rapat dan rapi. Masa harus digeser satu satu kayak pas di TK T.T Ini harusnya imamnya sih yang bilang. Argh bodo amat. Sorry to say, sejak hari itu saya tidak lagi ke masjid untuk bertarawih. Saya lebih memilih shalat sendirian di kamar kosan. BYE.

***

Beberapa hari yang lalu saya kembali tarawih di masjid. Pasalnya, masjid dekat rumah saya ini baru dibangun. Imamnya al hafidz dengan bacaan yang tartil dan indah didengar, tidak terburu-buru. Wah mungkin di masjid itu shafnya rapat. Saya bersemangat mengajak ayah shalat tarawih di masjid ini.

Bangunan dan suasananya memang berbeda dengan masjid lain. Lebih modern dan nyaman. Namun ketika Isya akan dimulai dan semua jamaah berdiri. Saya dihadapkan kembali dengan kisah masa lalu. Yepp, saya ada di baris ketiga, tapi bisa melihat space yang cukup untuk saya isi di shaf pertama -__-. Majulah saya ke shaf pertama itu. Imam mengingatkan untuk merapatkan shaf dan merapikan barisan ma’mum. Di barisan ikhwan terlihat semua merapat. Anehnya, di barisan akhwat ini, tidak terjadi pergeseran yang signifikan. WHHYYY?!

Apa saya harus bantu teriak juga buat ingetin kalo shafnya masih bolong bolong. Atau harus angkat tangan untuk bilang ke imam jangan mulai dulu ini belom rapet looohhhh. Atau gimana dong? Hhhhh. Sungguh selama di masjid saya malah jadi mikirin gimana caranya biar rapet nih barisan ibuibu. Saya bukan siapa siapa disini, gapunya pengaruh. PENGARUH! Saya langsung ingat mic. Hanya suara dari mic yang lebih berpengaruh. Maka saya pikir kalau saya sampaikan keluhan ini ke panitia atau imam mungkin bisa terjadi perubahan. Oke akan saya eksekusi setelah tarawih ini.

Saat itu imam dan panitia sedang melingkar di barisan ikhwan. Saat jamaah sudah berpulangan, saya dekati salah seorang dan sampaikan masalah shaf akhwat tersebut. Apalagi saya tidak bisa ikut tarawih setiap hari karena jadwal praktek, setidaknya saya sudah sampaikan. Mereka meresponnya dengan baik. Saya pun pulang dengan perasaan yang lebih lega🙂

Sudah lama saya tidak ke masjid tersebut karena jadwal praktek yang penuh. Suatu hari saya tanya seorang adik saya yang kadang tarawih juga di masjid itu. Ternyata kondisinya masih sama saja. Shaf akhwat masih renggang. Haduh, jadi agak sedih. Saya pikir seorang pemegang mic mampu membuat perubahan. Ternyata tidak selalu dan tidak semua begitu. Maka tentukan pemegang mic di masjidmu dengan baik dan benar. Bukan cuma ngaji, tapi juga aksi.

Bagaimana kalau saya yang pegang mic? Mungkin jadi seperti saat latihan shalat di SD.

Ayo shafnya dirapikan. Semua harus rapat tidak ada jarak ya! Shalatnya tidak akan dimulai kalau belum rapat. Ibu yang pakai mukena floral vintage mohon menempelkan diri ke ibu mukena padang warna coklat itu. Nanti kalau di tengah shalat ada yang mau ke toilet, gapapa bu digeser saja langsung rapatkan lagi barisannya. Sajadah orang itu gapapa kita pakai, yang penting rapat. OKE semuanya sudah rapat yaaah? Alhamdulillah,, Markishool, Mari kita sholaat!

eh apa perlu bawa mic wireless ya kalo ke masjid

. . .

“Luruskanlah shaf-shaf, sejajarkanlah pundak dengan pundak, isilah bagian yang masih renggang, bersikap lembutlah terhadap lengan teman-teman kalian (ketika mengatur shaf), dan jangan biarkan ada celah untuk (dimasuki oleh) syaithan. Barangsiapa yang menyambung shaf maka Allah akan menyambungnya (dengan rahmat-Nya), dan barangsiapa yang memutus shaf maka Allah akan memutuskannya (dari rahmat-Nya).” [HR Abu Daud (666). Hadits shahih.]